Tampilkan postingan dengan label GURU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GURU. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 September 2015

Anak Penderita Dyslexia Adalah Anak Dengan Kecerdasan Tinggi



Masa awal belajar di sekolah dasar merupakan saat menyiksa bagi Aigis Arira. Gadis itu kesulitan membedakan huruf ”b” dan ”d”. Kedua huruf itu sering terbalik di dalam benaknya. Pekerjaan menyalin pun sering salah walaupun Aigis sudah duduk di bangku paling depan.


Suatu kali hendak menggambar kubus, hasilnya malah trapesium,” ujar Aigis, seorang penyandang disleksia, saat berbagi kisah dalam acara ”Menuju Layanan Pendidikan Prima untuk Melindungi Seluruh Anak Indonesia”, beberapa waktu lalu.
Aigis kini terdaftar sebagai mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Hasil sebuah perjalanan panjang. Di dunia pendidikan yang didominasi keterampilan membaca, menulis, dan berhitung, Aigis harus bekerja keras.

Disleksia berasal dari bahasa Yunani, yakni dys (kesulitan) dan lexia (kata-kata), untuk menyebut gangguan yang memengaruhi pengembangan keterampilan literasi dan bahasa. Orang dengan disleksia mengalami masalah belajar spesifik, terutama terkait kata-kata.
Di dalam pikiran Aigis, misalnya, huruf-huruf dalam tulisan bercampur aduk dan tidak beraturan sehingga sulit dibaca dan diingat.

IntelegensiaTinggi
Dokter spesialis anak-konsultan saraf anak, Purboyo Solek, mengatakan, anak disleksia berpotensi besar. Anak dengan disleksia memiliki intelegensia di atas rata-rata hingga tinggi. Hal itu yang membedakan anak dengan kesulitan belajar spesifik seperti disleksia dengan kesulitan belajar umumnya. ”Berbeda dengan anak dengan kesulitan belajar yang tingkat intelegensianya di bawah normal, seperti epilepsi lena atipikal, hiperaktif, down syndrom, dan sejumlah kasus autis. Disleksia sering kali dicampuradukkan dengan gangguan belajar lainnya,” ujar Purboyo.

Sederet nama tokoh terkenal dan berpengaruh, seperti Albert Einstein (ilmuwan), Tom Cruise (artis), Orlando Bloom (artis), Whoopi Goldberg (artis), dan Lee Kuan Yew (mantan Perdana Menteri Singapura), tercatat menderita disleksia.
Riyani T Bondan, Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia, mengungkapkan, di dunia, 10 hingga 15 persen anak sekolah menyandang disleksia. Dengan jumlah anak sekolah di Indonesia sekitar 50 juta, diperkirakan 5 juta di antaranya mengalami disleksia. ”Tanpa penanganan tepat, negara rugi lantaran orang yang sebetulnya intelegensinya tinggi jadi kesulitan mengembangkan potensinya,” ujarnya.


Berbasis neurologis
Ketua Pelaksana Harian Asosiasi Disleksia Indonesia sekaligus dokter spesialis anak, Kristiantini Dewi, mengungkapkan, disleksia bukan disebabkan kebodohan, cara mengajar tidak baik, latar belakang ekonomi buruk, kurangnya motivasi atau gangguan lain, seperti penglihatan atau pendengaran. Disleksia berbasis neurologis. Otak individu disleksia mempunyai cara berbeda dalam mengolah informasi terkait kata-kata. Cara mereka membaca ”tidak sama” dengan otak individu yang tidak disleksia.
Namun, ada sisi positifnya. Mereka mempunyai kemampuan atau keterampilan di area belajar lain yang jauh di atas rata-rata. Mereka unggul dalam kemampuan visual spatial, analisis masalah yang mendalam, kesadaran sosial, penyelesaian masalah, geometri, catur, atau permainan di komputer. ”Kemampuan ini jangan sampai disia-siakan,” ujarnya.

Kristiani menjelaskan, ada dua tipe disleksia, yaitu developmental dyslexia yang merupakan bawaan sejak lahir. Tipe lainnya ialah acquired dyslexia yang didapat karena gangguan perubahan cara otak kiri membaca. Penderita biasanya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan otak kiri.

Developmental dyslexia disandang seumur hidup dengan kondisi berbasis neurologis dan sering kali bersifat genetik. Berkisar 70-75 persen disleksia adalah genetik. Sejumlah hasil penelitian, antara lain, Brain abnormalities underlying altered activation in dyslexia: a voxel based morphometry study yang dimuat dalam Journal of Neurology, Brain, mengasosiasikan disleksia dengan disfungsi pada daerah abu-abu di otak. Terjadi perubahan aktivasi dalam sistem membaca terkait dengan perubahan kepadatan dari materi abu-abu dan putih pada daerah tertentu otak. Disfungsi di bagian bermateri abu-abu itu terkait dengan perubahan konektivitas di antara area fonologis (membaca).
Kristiantini menyebutkan ada beberapa tanda awal disleksia bawaan. Tanda-tanda itu, antara lain, telat berbicara. Pada umur dua tahun, misalnya, anak baru dapat mengucapkan satu atau dua patah kata. Anak juga sering bingung atau tertukar antara kiri dan kanan. Gejala lainnya ialah artikulasi tidak jelas dan terbalik-balik. ”Kata kulkas, misalnya menjadi kalkus,” ujar Kristiantini.

Beranjak di usia sekolah, kesulitan makin dirasakan lantaran anak mulai dituntut membaca, menulis, dan berhitung. Anak kesulitan mempelajari huruf, baik bentuk maupun bunyinya. Beberapa huruf sering kali tertukar, seperti ”b” dan ”d”, ”h” dan ”a”, serta ”t” dan ”j”. ”Pada awal anak belajar membaca, huruf tertukar kadang terjadi. Namun, pada anak dengan disleksia, kesulitan itu terus berlanjut,” ujarnya. Anak dengan disleksia juga kesulitan menggabungkan huruf menjadi kata, kesulitan membaca, kesulitan memegang alat tulis dengan baik, dan kesulitan dalam rima.

Pertanda lainnya ialah bingung konsep ruang dan waktu serta kesulitan mencerna serta mengikuti beberapa instruksi yang disampaikan secara verbal, cepat, dan berurutan. ”Jika ada tiga perintah yang diucapkan secara cepat, kemungkinan hanya perintah terakhir yang diingat,” ujarnya.

Gangguan itu sering ditemukan bersama dengan gangguan pemusatan perhatian atau konsentrasi, kesulitan matematika dan keterampilan motorik, seperti masih tumpah ketika menyendok makanan walaupun sudah di kelas I atau II sekolah dasar.

Menurut Kristiantini, identifikasi disleksia sebaiknya sedari dini sehingga anak dapat dilatih cara belajar yang tepat dan sesuai kebutuhannya. Jika terlambat, prestasi akademis terus turun, anak kesulitan dalam ujian, mendapat stigma negatif, diganggu (bullying), serta kesulitan dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan membaca dan menulis.

Orangtua Aigis yang menyadari kondisi khusus putrinya lalu memindahkan Aigis ke sekolah khusus, SD Pantara. Di sekolah khusus itu, Aigis belajar dengan dukungan dan pemahaman penuh terhadap kebutuhan khususnya.

Setelah itu, dia melanjutkan ke SMP negeri, SMK negeri jurusan rekayasa perangkat lunak, dan kini belajar di sebuah perguruan tinggi swasta untuk menjadi programmer komputer. Aigis yakin impiannya menjadi programmer kelak dapat diraih.

sumber:http://acaciagrove.multiply.com/journal/item/40&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
Read more »

Selasa, 08 September 2015

KERAS VS TANGGUH

RENUNGAN BAGI KITA YANG MASIH PERCAYA BAHWA ANAK/MURID ITU PERLU DIKERASI UNTUK BISA MENJADI LEBIH BAIK.



Para orang tua dan guru yg bijaksana,

TAFT (TANGGUH) DAN KERAS dalam mendidik adalah dua hal yg berbeda.

Taft/Tangguh atau dalam bahasa Inggrisnya Tough adalah mendidik anak untuk bisa memiliki daya juang, sementara keras adalah lawan kata dari lembut. Kita bisa mendidik anak untuk memiliki daya juang yg tinggi tanpa harus dengan cara kekerasan atau hukuman. Anak yg taft atau memiliki daya juang tinggi adalah anak yg pantang menyerah tapi bukan tidak mau kalah.

Begitu yg pernah di ucapkan oleh Mendiang Winston Churcil dalam Pidatonya di hadapan 5000 wisudawan Oxford University. Orang yg Taft adalah orang yg NEVER...NEVER AND NEVER GIVE UP !!!. Winston Churcil meskipun ia adalah salah satu contoh orang yg sangat Taft membela negaranya dari Gempuran NAZI Jerman pada perang dunia II, namun ia memiliki pribadi yg sangat lembut.
Kembali lagi pada Doa untuk puteraku, ini adalah sebuah doa yg mencerminkan upaya lahir bathin dari orang tua yg TAFT/Tangguh untuk bisa mendidik anaknya menjadi anak yg Tangguh juga, yakni anak yg memiliki DAYA JUANG tinggi dan PANTANG MENYERAH.

Namun sayangnya yg sering kali terjadi pada sistem pendidikan dan pola asuh orang tua adalah menyamakan arti TAFT dengan Keras. Sehingga cara2 yg di pilih menggunakan kata2 yang keras, suara yg keras dan hukuman yg keras baik fisik atau non fisik.

Pernah ada guru yg bercerita menghukum muridnya yg terlambat datang dengan berdiri di depan kelas selama pelajaran berlangsung. Ada juga guru yang memukul dengan Mistar untuk muridnya yang tidak bisa menjawab soal-soal pelajaran.

Niat sang guru memang baik, agar anak tidak lagi mengulangi perbuatannya, tapi caranya yg tidak tepat.
Coba perhatikan...., anak yg telat datang pasti punya masalah....bisa berbagai kemungkinan masalah yg dialami si anak..., mungkini rumahnya jauh, kendaraannya mogok, telat bangun karena membantu orang tuanya buat kue hingga larut atau kemungkinan karena kurang suka dengan pelajaran dan gurunya yg kurang ramah dan lain sebagainya....

Tugas guru sebenarnya adalah bukan untuk MENGHUKUM, melainkan MENOLONG si anak agar esok tidak telat lagi.. karena semua masalah anak itu mayoritas berasal dari kesalahan pola asuh orang tuanya dirumah.

Caranya adalah dengan melakukan proses telusur.. apa yg menjadi penyebab pastinya. Kerena penyebab telat bagi anak A mungkin tidak sama dengan penyebab telat dengan anak B.

Setelah di ketahui pasti penyebabnya coba anak di ajak dialog kira2 apa yg bisa dilakukan bersama2 antara guru, anak dan orang tua bekerjasama agar anak tersebut tidak telat lagi datang ke sekolah. Hingga jika perlu membicarakan tentang konsekuensi yg di sepakati bersama. Itu yang selama ini kami lakukan di sekolah kami. "MENOLONG ANAK UNTUK BERHENTI BERPERILAKU BURUK DAN MAU BERBUAT BAIKI".

Namun sayangnya banyak pendidik yg tidak melakukan hal ini, dan lebih memilih jalan pintas dengan cara menghukum dan strap berdiri di depan kelas, atau di berikan tugas dsb, Hukuman atau tugas sering kali sama sekali tidak nyambung dengan masalahnya juga sama sekali tidak memberikan solusi bagi si anak.

Hingga akhirnya dengan hukuman tadi anak menjadi TAKUT bukannya SADAR bahwa ia harus datang tepat waktu.

Maka jadilah anak2 tersebut terdidik menjadi generasi yg HANYA TAAT JIKA ADA YG MENGAWASI... karena TAKUT TERKENA SANGSI.

Contoh yg paling mudah kita temukan adalah di lampu merah...., orang2 melanggar lampu merah jika tidak ada yg mengawasi dan bukan menyadari bahwa jika lampu berwarna merah artinya harus berhenti dan menunggu giliran jalan saat lampu hijau.

Begitu pula dengan meng korup uang Rakyat dan Negara..., selama tidak ada yg mengawasi ya sikat saja... begitu pikirnya, karena begitu pulalah pola didik dan asuh yg di terimanya dulu semasa anak2 dan bersekolah.

Apakah anak2 kita kelak menjadi anak yg TAFT/TANGGUH atau KERAS kita semualah (orang tua + guru) yg memutuskan melalui cara mendidik kita dirumah dan di sekolah.

Apakah anak2 kita kelak akan menjadi anak yg TAAT hanya jika ada yg MENGAWASI atau Sadar untuk berbuat semestinya, kita jugalah yg memutuskan melalu cara mendidik kita di rumah dan di sekolah.

Mengutip ucapan pak Munif Chatib:
" Sesungguhnya Orang tua dan guru memiliki kemampuan yg luar biasa untuk MEMBANGUN ATAU MALAH MENGHANCURKAN KARAKTER ANAK2 BANGSA"

Termasuk orang tua dan guru yg manakah kita...?
Mari kita renungkan....

Oleh : Ayah Edy
Read more »

Minggu, 25 Januari 2015

Menjadi Guru Ahli Surga dengan Meneladani Sifat Rasul



Melihat contoh perilaku negatif yang dilakukan oleh guru, bisa ditarik satu kesimpulan, guru juga manusia.Tanpa disadari, guru masih dianggap sebagai ‘dewa’ oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Guru adalah makhluk tanpa cela yang seluruh perkataan dan perbuatannya adalah kebenaran.
Guru adalah orang yang tidak boleh dilawan atau disanggah perkataannya. Jika ada siswa yang meragukan atau menyanggah guru, maka siswa tersebut akan dicap sebagai pemberontak. Guru adalah satu-satunya profesi di Indonesia yang dipuja dalam beberapa lagu. Gurulah yang dianggap penghantar manusia menuju masa depan.
Namun guru tetaplah manusia.Ia bisa khilaf dan melakukan dosa. Lemahnya iman bisa menjadikan ia salah jalan. Kurangnya dia bersyukur membuat ia jadi takabur. Tak merasa diawasi menjadikan ia lupa diri. Terlalu cinta dunia membuatnya jadi jumawa.Karena guru tetaplah manusia.Cara pandang sekulerisme telah menjadikan guru sebagai sosok yang jauh dari nilai-nilai Islam. Benturan pemahaman yang ia alami di sekolah menjadikan ia rela menggadaikan keimanannya.
Lalu bagaimana menjadikan guru sebagai ahli surga? Tentu saja dengan meneladani Rasulullah saw. Bukankah Allah sudah menggambarkan dalam ayat-Nya bahwa Rasulullah saw adalah sebaik-baik suri tauladan? Allah SWT berfirman:
]لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا[
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (TQS al-Ahzab [33]: 21).
Rasulullah saw memiliki karakter mulia yang orang Barat pun sudah mengakuinya. Michael H. Hart dalam bukunya “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History” menempatkan Muhammad saw di posisi pertama sebagai orang yang paling memberikan pengaruh di dunia. Rasulullah saw adalah sosok Nabi yang mengangkat manusia ke peradaban yang cemerlang dari masa kegelapan.
Rasulullah saw adalah sebaik-baik guru yang patut ditiru. Rasulullah saw menganggap betapa penting arti pendidikan bagi perkembangan sebuah negara. Setelah perang Badar, Rasulullah saw memerintahkan 70 orang kafir Quraisy yang menjadi tawanan perang untuk mengajar kepada penduduk Madinah. Masing-masing dari mereka bertugas mengajarkan baca dan tulis ke sepuluh anak-anak dan orang dewasa.Hasilnya, 700 orang penduduk Madinah terbebas dari buta huruf. Kemudian 700 penduduk yang sudah bisa baca tulis diminta untuk mengajarkan kembali pada penduduk yang lain.
Sudah sepatutnya para guru mengaplikasikan sifat Rasulullah saw yang juga menjadi sifat wajib Rasul laindalam menjalankan profesinya:
1. Shiddiq
Shiddiq berarti benar.Tidak hanya benar dalam perkataan tetapi juga dalam perbuatan. Berbuat curang di waktu ujian nasional tentu bukanlah perbuatan yang sesuai dengan sifat yang Rasulullah saw miliki.
Seorang guru dituntut untuk mengajarkan kebenaran dan menjunjung tinggi kejujuran. Jika ada kecurangan yang ia ketahui, ia akan berada di garda terdepan untuk mengingatkan yang lain. Ia akan bekerja sepenuh hati tanpa takut dicaci-maki. Karena ia yakin, Allah senantiasa mengawasi.Mengajarkan ilmu yang ‘salah’ juga bukan cerminan dari sifat shiddiq. Ketika ada materi pelajaran yang tidak sesuai dengan pemahaman, ia akan memilih mengungkapkan kebenaran.
2. Amanah
Amanah artinya dapat dipercaya. Guru mempunyai akad ‘jual beli jasa’ dengan orangtua yang sudah menitipkan anak-anaknya pada mereka. Ketika dia tidak melaksanakan tugasnya dengan benar, maka ia bukanlah orang yang memegang amanah.
Mengurangi jam belajar atau hanya memberikan tugas lalu meninggalkan kelas tanpa alasan jelas bukanlah cerminan guru yang amanah.
Sekecil apapun gaji atau honor yang diterima oleh guru, bukanlah menjadi alasan dia untuk mengabaikan akad yang sudah ia ucapkan ketika memutuskan untuk mengajar. Guru yang amanah pun tidak menjadikan kekerasan sebagai jalan mendisiplinkan anak didiknya.Ia akan berlaku lemah lembut penuh kasih sayang. Motivasi akan senantiasa ia berikan manakala ada muridnya yang merasa gagal dalam pelajaran.
Rasulullah saw dijuluki sebagai al-Amin atau orang yang dapat dipercaya sejak beliau masih muda. Kafir Quraisy pun tidak meragukan sifat Rasulullah saw tersebut.
3. Fathanah
Guru yang memiliki sifat fathanah berarti ia cerdas dan bijak dalam melakukan perbuatan. Guru dituntut untuk senantiasa mengembangkan ilmu yang ia ajarkan pada murid-muridnya. Guru yang terus menerus menjunjung metode konvesional tanpa berinovasi tidaklah memiliki sifat fathanah.Guru yang kembali melanjutkan kuliah hanya untuk memperoleh gelar bukanlah guru yang fathanah.Guru yang rela membayar sejumlah uang untuk membeli ‘titel’ bukan guru yang fathanah.
Guru yang fathanah adalah guru yang bisa menjadikan murid-muridnya lulus 100% tanpa harus berbuat curang. Guru yang senantiasa terbuka dalam menerima kritik yang datang dari siswa atau dari guru yang lain. Guru yang senantiasa berkompetisi sehat dengan sesama guru yang lain dalam mendidik generasi muda sebagai tonggak penerus masa depan.
Jika Rasulullah saw tidak memiliki sifat fathanah, mustahil Islam bisa menyebar ke seluruh dunia. Dengan sifatnya yang fathanah, Rasulullah saw berhasil mengajak kafir Quraisy untuk masuk Islam. Strategi perang yang ia sarankan juga menghantarkan kemenangan kaum muslimin di perang badar.
4. Tabligh
Tabligh berarti menyampaikan. Guru memang tidak boleh pelit dalam memberikan ilmu. Ilmu yang bermanfaat akan menjadi pahala yang terus mengalir bagi guru. Rasulullah saw tidak mungkin menyembunyikan wahyu. Jika Allah SWT memberikan teguran padanya, beliau saw akan memberitahukan pula pada kaum muslimin. Tanpa ada rasa malu.Tidak ada yang ditutup-tutupi.
Jika melihat kemaksiatan, guru seharusnya menyampaikan kebenaran walau nyawa jadi taruhan.Ia juga tidak segan jika ancaman pencopotan jabatan senantiasa mengintai. Ia akan mengajak semua pihak termasuk murid-muridnya untuk senantiasa menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya di semua aspek kehidupan.
Jika akhirnya ia pun dikucilkan oleh yang lain, ia pun tak risau. Karena ia yakin Allah SWT akan selalu menemani. Kalaupun ia dipecat, ia yakin Allah SWT Maha Pemberi Rizki.
Menjadi guru adalah tugas mulia.Jika guru dipandang sebagai profesi yang bisa menghasilkan materi semata, tentu menjadi guru yang meneladani sifat Rasulullah saw sangatlah sulit untuk dilakukan. Guru dituntut untuk bisa menahan amarah, senantiasa ikhlas, berlaku lemah lembut sementara gaji yang mereka hasilkan tidak seberapa dibandingkan dengan beban tanggung jawab yang harus mereka emban khususnya bagi guru non-PNS.
Namun, menjadi seorang guru akan menjadikan seorang hamba Allah senantiasa bertambah pahalanya. Rasulullah saw bersabda:
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh,” (HR. Muslim).

Walaupun jasad sudah terbungkus kain kafan, amalan seorang guru akan tetap mengalir jika ilmu yang ia ajarkan senantiasa diamalkan dan diajarkan kembali oleh murid-muridnya. Dan kemuliaan itu akan ia dapatkan pula di surga jika ia senantiasa mengingat Allah setiap waktu dan menerapkan peraturan-Nya. Wallahu a’lam bishawab. 

Oleh: Maya Puspitasari, P.hD., Student School of Education, University of Glasgow, Scotland, UK
Di copy dari : islampos.com
Read more »

Jumat, 24 Mei 2013

Berbagi Ilmu dan Kasih Sayang Dari Atas Pembaringan


Kamar tidur Een Sukaesih (48) selalu ramai dengan kehadiran anak-anak. Sambil membawa buku dan alat-alat tulis, mereka berkumpul di sebuah kamar sederhana berukuran sekitar 3x2 meter. Dalam suasana santai, anak-anak itu mendengarkan penjelasan Een. Beberapa anak tampak menulis di lembar tugasnya, dan seorang anak menulis di papan tulis. Pemandangan tersebut biasa terjadi setelah jam pulang sekolah. 

Een dengan sabar menerangkan berbagai materi pelajaran sekolah dan menjawab sejumah pertanyaan yang sesekali terlontar dari anak-anak. Semua itu dilakukannya sambil berbaring, di atas tempat tidur. Bukan karena malas, ia berbaring. Hal tersebut ‘terpaksa’ dilakukan karena tubuhnya memang sudah tidak mampu lagi duduk dengan tegak, apalagi untuk berdiri.

Perempuan lulusan IKIP Bandung ini sudah dua puluh empat tahun mengalami lumpuh total. Penyakit radang sendi rheumathoid arthitis  telah melumpuhkan hampir seluruh persendian tubuhnya. Terutama tangan dan kaki, sehingga tidak lagi bisa digerakkan. Namun begitu, semangatnya tidak pernah ikut lumpuh. 
Sejak lumpuh total pada tahun 1987, ia tidak pernah berhenti memberikan bimbingan pelajaran pada anak-anak. Dengan fasilitas yang sederhana, Een terus berbagi ilmu pada anak-anak di sekitar tempat tinggalnya secara ikhlas tanpa menerima imbalan.   
Een menekankan prinsip hidupnya dari sebuah hadist, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Prinsip yang ia terapkan dengan mengabdikan diri untuk membimbing anak-anak di lingkungan sekitar tempat tinggalnya di Desa Cibereum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Sumedang.  
“Dengan bersama anak-anak ini saya merasa bisa sedikit memberi manfaat. Minimal saya bisa memanfaatkan waktu saya untuk berbagi ilmu, berbagi kasih sayang dengan mereka. Meskipun tidak teralu banyak,” tutur Een rendah hati. Ia pun lebih suka kegiatan yang dilakukannya ini disebut sebagai ‘berbagi ilmu’, ketimbang sebagai ‘mengajar’. 
Atas dedikasinya, pada tahun 2010 lalu Een menerima beberapa penghargaan. Di antaranya Dompet Dhuafa Award 2010 untuk kategori pendidikan, Education Award dari Bank Syariah Mandiri (BSM), serta penghargaan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Positif Rheumathoid Arthritis
Een tidak pernah mengira bahwa hidupnya harus dilewatkan dengan berbaring di atas tempat tidur. Cita-citanya adalah menjadi guru. Saat lulus sekolah menengah pertama, ia mantap melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Awalnya semua berjalan baik. Sampai suatu saat ia mulai sering mengalami nyeri sendi di bagian tangan.
Ia datang ke dokter untuk berobat. “Dokter bilang ini rematik,” ujarnya. Begitu obatnya habis, rasa nyeri kambuh lagi. Lalu ia datang kembali ke dokter dan diberi obat yang sama. Namun, setelah sekian kali mengkonsumsi obat kondisinya tidak menunjukan perbaikan. Rasa nyeri justru menyebar ke bagian yang lain. Tidak hanya tangan, tetapi juga lutut, siku, tengkuk, hingga ke persendian yang kecil-kecil. Jari-jarinya menjadi bengak biru kemerahan. 



“Saya merasa sakitnya makin parah. Setelah itu saya ganti dokter karena obat yang diberikan kok itu-itu aja. Saya berpikir mungkin ada obat lain,” ungkapnya. Ketika itu kedua tangannya masih bisa memegang benda. Walau sudah tidak kuat memegang yang berat-berat karena akan terasa nyeri. 
Setelah pindah dokter, ia mulai mengkonsumsi berbagai macam obat. Tapi tetap tidak menunjukan perbaikan. Setiap selesai satu resep, sakitnya malah bertambah parah. Saking nyeri dan tidak kuat menahan beban, tangan Een pun sempat disangga menggunakan kain yang diikat ke pundak, seperti orang patah tulang.
Terakhir ia diberi obat yang dosisnya paling keras, yang diminum 3x2 sehari. “Tapi dokter bilang untuk dikurangi sendiri dosisnya. Karena kalau diminum terus menerus akan ada efek samping pada lambung,” jelas Een.  
Ketika ia coba berhenti minum obat, justru kondisinya semakin parah. “Saya tidak bisa bangun, tidak bisa jalan, gak bisa gerak, terasa sakit bukan main seperti ditusuk-tusuk,” ungkapnya.
Dokter kemudian mengarahkan untuk melakukan tes laboraturium. Dokter memberi rujukan ke salah satu klinik lab di Bandung. Setelah dilakukan tes, pada 5 april 1982 baru kemudian diketahui bahwa dirinya positif menderita rheumathoid artitis. Sebuah penyakit yang begitu asing di telinganya. 
“Dokter bilang itu jenis rematik terganas dan belum ditemukan obatnya. Dan obat yang dapat dokter berikan selama ini cuma penghilang rasa sakit. Bukan untuk menyembuhkan,” terangnya.
 Informasi itu diterima ketika ia telah duduk di bangku kelas 3, menjelang ujian semester akhir sekolah. “Perasaan saya sangat sedih saat itu. Di usia yang masih remaja, sekitar 18 tahun saya, sudah sakit seperti itu,” lanjutnya. 

Berjuang Menghadapi Sakit Sambil Kuliah
Rencana melanjutkan kuliah pun sempat disingkirkan setelah mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit yang belum ada obatnya. Toh pendidikan di SPG sudah cukup untuk membuatnya menjadi guru. Begitulah yang disampaikan neneknya pada Een. 
Namun menjelang kelulusan sekolah, wali kelas ‘memaksa’ Een untuk mengikuti tes seleksi penerimaan mahasiswa baru. Padahal saat itu ia sudah mengatakan tidak akan melanjutkan kuliah. “Waktu itu wali kelas bilang, kalau saya tidak ikut Sipenmaru maka tidak akan diberikan ijazahnya,” ujar Een. Maksudnya, karena ingin mengetahui sejauh mana kemampuan saya.
Setelah ikut tes seleksi, ternyata hasilnya lulus. Een pun diterima di Program Diploma 3 Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan IKIP Bandung. Ia sengja memilih jenjang D3 karena pertimbangan kondisi kesehatannya. Jika mengambil S1 dikhawtirkan akan berat.
Selama kuliah ia terus mencari berbagai informasi mengenai penyakitnya. Keinginannya untuk sembuh masih sangat kuat, berbagai upaya dia lakukan. Ia pun mendatangi beberapa dokter di Bandung. Meski jawaban yang diterima selalu sama, bahwa rheumatoid arthritis belum ditemukan obatnya.
“Saya juga pernah berkirim surat ke salah satu dokter spesialis penyakit dalam di RSCM yang  kebetulan suka muncul di TVRI saat itu. Namun jawabannya tetap sama, belum ada obatnya,” ungkap Een.  
Bukan hal mudah bagi Een menjalani kuliah dengan kondisi tubuh yang sakit. Ia harus menahan nyeri saat berjalan kaki, saat menaiki tangga menuju ruang kelas, atau ketika harus ke perpustakaan yang lokasinya cukup jauh. 
“Karena berjalan kaki dari kos ke kampus, saya harus berangkat kuliah lebih awal dibanding yang lain. Saat naik tangga, kalau sakit saya berhenti-berhenti dulu. Tapi alhamdulillah, saya masih bisa ngetik sendiri. Tidak pernah meminta tolong orang kalau ada tugas,” tuturnya.
Semuanya ia dijalani dengan sabar dan rasa optimis untuk sembuh. Baginya, pantang berputus asa terhadap pertolongan Tuhan.  “Dari segi psikologis sedihnya bukan main, harus kuliah dengan keadaan seperti ini. Tapi saya tetap optimis dan berusaha. Saya punya keyakinan bahwa penentu segala sesuatu adalah Allah swt, dan yang bisa menyembuhkan juga Allah,” ungkapnya.

Beruntung ia memiliki seorang sahabat, Mimin Suhaeti, yang selalu setia mendukungnya. Menemaninya di kampus, mengantar ke dokter, meski kost mereka berjauhan. “Kalau saya mulai menurunkan dosis obat, dia suka menginap. Karena dia khawatir. Dia tau kalau saya diturunkan dosisnya, saya suka sakit. Dia begitu sabar menunggu saya,” kenang Een. 
Een lulus dari IKIP tahun 1985 dengan nilai yang cukup baik. Satu tahun setelah lulus, ia diangkat untuk mengajar di SMA Sindang Laut Cirebon. Namun, cuaca panas di kota itu membuat penyakitnya cepat bertambah parah.
“Saya merasa tidak kuat di udara panas. Bagi saya yang menderita rheumatoid, kondisi saya jadi semakin parah,” tuturnya.  
Belum sempat pra jabatan, sakitnya semakin parah. Baru satu bulan di sana, akhirnya ia memutuskan pulang ke Sumedang. “Begitu turun dari mobil saya jatuh, tidak kuat berdiri. Terus dibopong di bawa kerumah. Sejak itu sudah tidak bisa berjalan lagi,” kenangnya.
Semenjak lumpuh total, dirinya hanya bisa berbaring di tempat tidur. Punggungnya mulai lecet-lecet dan berdarah karena terlalu lama berbaring. Dia harus berganti perban dan diberi obet lagi setiap 6 hari.
“Lecet itu cukup parah sampai urat-urat itu ada yang keluar. Dan yang sanggup menggunting itu adik, yang lain tidak berani,” katanya. Hampir satu tahun ia harus menahan nyeri karena lecet, sampai kemudian luka itu perlahan sembuh.
Akhir tahun 1987 ia sempat divonis tidak akan berumur panjang. Ketika itu Een merasakan sakit di perut yang sangat hebat. Setelah diperiksa, dokter dirinya terkena infeksi usus karena terlalu banyak mengkonsumsi obat dengan dosis tinggi. "Dokter mengatakan pada ibu dan nenek saya bahwa hidup saya tidak akan lama lagi," katanya.
“Tidak akan bertahan lebih dari seminggu. Begitu kata dokter pada nenek dan ibu saya. Awalnya saya tidak tahu. Setelah lewat seminggu, nenek baru cerita pada saya. Pantas, semejak pulang dari dokter itu mereka berdua sering menangis,” tambah Een.
Ia hampir kehilangan semangat dan berpikir tidak ingin berobat lagi. Tapi kemudian kondisinya perlahan membaik. Vonis dokter juga tidak terbukti. “Saya amat bersyukur, ternyata saat itu kondisi saya membaik dan masih dipercaya hidup hingga saat ini,” ujarnya. 

Episode Baru Bersama Anak-anak
Een berusaha menerima penyakitnya dengan ikhlas, sambil terus berdoa agar diberi kesembuhan. Ia kemudian mulai berpikir apa yang bisa dirinya lakukan dengan kondisi fisik yang lumpuh seperti itu. Sementara Ia sama sekali tidak ingin melewatkan waktu hanya tidur dan tidak melakukan apa-apa.  
Hari-harinya di pembaringan mulai terobati dengan kehadiran anak-anak dari kerabatnya yang sering bermain di rumah. Mereka menitipkan anak-anaknya untuk belajar bersama Een di rumah. “Dulu sebelum sakit, memang sudah banyak anak-anak kesini. Anak-anaknya saudara, dua tiga orang. Sampai sekarang jadi banyak,” tuturnya. 
Keinginannya untuk mengajar, perlahan terwujud dengan semakin banyaknya anak yang datang ke rumah. Seorang keponakan Een yang sering mengerjakan PR di rumahnya, mulai mengajak teman-temannya untuk belajar bersama.
“Dia datang kalau ada PR. Di sekolah ia suka mengatakan kalau PRnya sudah selesai dikerjakan di rumah teh Een. Kemudian beberapa temannya ingin ikut mengerjakan PR di sini.
Keinginan dirinya untuk berbagi ilmu pun dimulai. Dengan fasilitas seadanya, Een membimbing anak-anak itu mengerjakan tugas dan PR dari sekolah. Saat itu belum ada papan tulis kapur, apalagi white board.


Anak-anak biasa menggunakan dinding kamar Een sebagai pengganti papan tulis. Berbagai sisi dinding kamar pun penuh dengan coretan dan tulisan anak-anak. Setiap selesai menulis, dinding kemudian dibersihkan dengan lap basah. Begitu seterusnya hingga cat dindingnya habis dan tidak bisa ditulisi lagi. “Sudah habis di dinding, lalu pindah ke bupet (lemari kayu),” kenang Een sambil tertawa.
Seorang tetangga lalu menawarkan memberi papan tulis. Setiap selesai belajar, papan tulis itu dicuci dan dijemur untuk belajar hari berikutnya. Semua dilakukan oleh anak-anak. Tidak lama kemudian Bupati datang menjenguk lalu lalu memberi bantuan papan tulis. Selain itu, ia juga mendapat bantuan kamus dan buku-buku dari Jamsostek. 
Kehadiran anak-anak seolah menjadi episode baru dalam hidupnya. Keceriaan anak-anak menjadi penghibur baginya. Anak-anak yang datang awalnya hanya dari lingkungan sekitar RT yang bersekolah dekat tempat tinggalnya. Kemudian datang anak-anak dari lokasi tempat tinggal dan sekolah yang lebih jauh. 
 “Setiap hari dikunjungi anak-anak, waktu jadi tidak terasa. Anak-anak jadi penghibur. Pernah saat saya sakit dada dan sakit menarik nafas, datang anak-anak mau belajar. Tapi saya tidak bilang kalau saya sakit. Setelah itu justru sakitnya hilang,” tuturnya.
Een menyadari perkembangan pendidikan yang berlangsung selama ini. Jika ada soal atau materi pelajaran yang kurang dikuasai, Een juga tidak segan bertanya pada teman-temannya yang sudah menjadi guru ataupun dosen. Ia biasa bertanya lewat sms atau telfon.
Salah satu teman yang dijadikan tempat bertanya adalah Prof. Dr. H. Dasim Budimansyah, yang kini adalah guru besar di UPI Bandung. Prof. Dasim merupakan kawan Een ketika di SPG dan IKIP.   
Beban materi pelajaran sekolah yang semakin banyak dan berat. Karena itu ia juga berusaha untuk memperbaharui pengetahuannya. Sesekali ia meminta bantuan pada teman atau kerabatnya untuk dicarikan buku, maupun dibelikan surat kabar. Berhubung Een tidak bisa memegang sendiri buku-buku atau koran, ia selalu minta dibacakan oleh anak-anak atau kerabatnya.
Een tidak pernah kehilangan akal dalam mengatasi keterbatasan fisiknya. Meski ia mengaku kesulitan untuk menyampaikan sesuatu yang harus dijelaskan dengan gambar, tulisan atau gerakan. Karena itu, dalam mengajar kadang ia dibantu oleh kerabatnya yang tinggal di dekat rumah.
Pernah suatu saat ada anak yang sedang belajar menulis. Anak itu bertanya, huruf L besar seperti apa. Karena Een tidak bisa menuliskan di papan tulis, maka ia menjelaskan bentuk huruf itu dengan kata-kata. Namun, si anak ternyata salah tangkap sehingga menimbulkan kelucuan. “Saya menjelaskan, tapi anak menangkapnya beda. Jadi nggak nyambung,”  tutur Een sambil tertawa. 
Jumlah anak yang belajar bersama Een kini sudah sekitar 30 orang, baik SD maupun SMP. Rata-rata mereka kebetulan berprestasi baik di sekolah. Ada yang juara kelas serta 10 besar di sekolahnya. Di antara mereka juga banyak yang mengikuti berbagai lomba bidang studi mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten. 
Kebahagiaan baginya, setiap kali mendengar anak-anak yang belajar bersamanya meraih prestasi. “Dari sejak anak bisa menjawab ulangan harian dengan baik, saya sudah alhamdulillah. Ada kepuasan tersendiri rasanya. Meskipun ini bukan hanya hasil kerja saya saja,” tutur Een dengan rendah hati.
Mengajar anak-anak juga menjadi tantangan tersendiri baginya. Di samping harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar materi pelajaran sekolah. Juga harus mampu menjelaskan dan menjawab pertanyaan kritis yang terlontar dari anak-anak, terutama yang mulai remaja. 
Menurut Een kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan kecerdasan emosi dan spiritual. Ia sering kali menyelipkan pendidikan budi pekerti dan akhlak pada anak. Karena baginya, semua yang dilakukan adalah bagian dari ibadah. 
Sumber : http://cangkirparagraf.blogspot.com
Read more »

Senin, 05 November 2012

Betapa Menentukannya Seorang Guru

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Ingin anak Anda sukses? Perhatikan, siapa gurunya! Sebuah riset yang dilakukan oleh S. Paul Wright, Sandra Horn dan William Sanders (1997) terhadap enam puluh ribu siswa, memberi pelajaran berharga kepada kita betapa pentingnya memperhatikan siapa yang menjadi guru bagi anak-anak kita. Hasil riset yang mereka lakukan menunjukkan bahwa faktor paling penting yang berpengaruh secara langsung terhadap belajar siswa adalah guru. Artinya, ada berbagai faktor yang mempengaruhi minat, keterampilan, kemampuan dan antusiasme belajar siswa, baik yang ada di sekolah maupun di rumah. Tetapi dari sekian banyak faktor, yang paling berpengaruh adalah guru. Maka, jika ada anak yang kurang bergairah saat belajar, pertanyaan pertama yang harus dijawab secara tuntas sebelum memanggil orangtua adalah bagaimana guru mengelola kelas dan menjalin hubungan dengan siswa-siswanya. Di luar itu, ada pertanyaan lain yang harus dijawab, apakah guru memiliki integritas pribadi atau tidak. Ini berarti, kompetensi saja tak cukup.

Kembali pada riset yang kita perbincangkan di awal tulisan ini. Wright dan kawan-kawan mencatat bahwa, guru-guru yang efektif mampu menjadikan para siswanya berkembang secara optimal. Ini berlaku untuk semua siswa dengan berbagai jenjang prestasi, tidak peduli seberapa majemuk ragam anak-anak di kelas. Jika di kelas banyak anak yang gagal mengembangkan kemampuannya secara efektif, berarti guru tidak mampu mengelola kelas atau bahkan bisa lebih dari itu, yakni tidak mengenali para siswanya dengan baik. Anak yang tidak bisa memusatkan perhatian dalam rentang waktu yang lama, boleh jadi karena kemampuannya mencerna pelajaran yang kurang, boleh jadi karena minatnya yang lemah. Ini berarti, meskipun sama masalahnya, langkah yang perlu diambil oleh guru akan sangat berbeda.

Catatan ini menunjukkan bahwa, kegiatan belajar-mengajar yang efektif sangat sulit terjadi apabila guru tidak mampu mengelola kelas dengan baik. Jika siswa banyak yang menunjukkan perilaku menyimpang atau antar siswa tidak ada rasa saling hormat, tak ada aturan dan prosedur yang dihormati sebagai panduan perilaku, dan rasa persahabatan antar siswa sangat rendah, maka kekacauan di kelas akan menjadi hal yang wajar. Dalam situasi seperti ini, kata Marzano dalam bukunya yang bertajuk Classroom Management That Works (2003), baik guru maupun siswa sama-sama menderita. Guru harus berjuang mati-matian untuk mengajar, dan siswa hampir pasti belajar jauh lebih sedikit daripada yang seharusnya mereka lakukan.

Berbagai riset menunjukkan bahwa anak-anak yang kemampuan matematikanya rendah dengan skor 50% ke bawah, meningkat pesat kemampuannya setelah 2 tahun jika ia belajar di sekolah yang efektif dan guru yang juga efektif. Sedangkan anak-anak yang belajar di sekolah rata-rata dengan kemampuan guru mengelola kelas yang juga rata-rata, tidak mengalami perubahan apa pun setelah 2 tahun. Tetap saja kemampuannya tidak berkembang dengan baik. Sementara anak-anak yang belajar di sekolah yang tidak efektif dan –celakanya—memperoleh guru yang juga tidak efektif, justru makin lama makin bodoh. Semakin lama ia bersekolah semakin terpuruk prestasinya, semakin tidak mampu ia mengembangkan potensinya.

Pelajaran apa yang bisa kita petik? Setiap anak bisa mengembangkan kemampuannya. Mereka bisa meraih sukses jika memperoleh bimbingan dari guru yang baik; guru yang mampu menjalin hubungan akrab dengan siswanya secara bermartabat, bisa membangkitkan tanggung-jawab siswa bagi kelangsungan pembelajaran yang penuh semangat, tegas dalam menegakkan disiplin sekaligus dapat melakukan intervensi disiplin secara ketat di kelas, mampu membuat aturan dan prosedur kelas yang menjadi panduan bagi siswa dalam berperilaku, serta memiliki kecakapan membangun sikap mental yang tepat bagi siswanya maupun dirinya sendiri.

Saya perlu menggarisbawahi masalah kemampuan menjalin hubungan akrab secara bermartabat. Apa yang perlu kita perhatikan di sini? Selain terampil menjalin keakraban dengan siswa, yang tidak boleh ditawar-tawar adalah keharusan menjaga batas antara siswa dan guru. Akrab dan bersahabat (friendly) memang harus, tetapi harus diingat bahwa guru adalah seorang pendidik dan pembimbing yang bertugas memberi arahan. Ada garis tegas yang perlu diperhatikan agar siswa tetap memiliki tata-krama yang baik. Harry K. Wong & Rosemary T. Wong bahkan mengingatkan dalam bukunya yang berjudul How to Be An Effective Teacher: The First Days of School agar guru tidak menjadi teman. Buku yang berisi panduan tentang apa yang harus dilakukan oleh guru pada bulan-bulan pertama di sekolah ini menegaskan bahwa setiap guru harus akrab, peduli, penuh cinta dan sekaligus peka terhadap siswa. Tetapi mereka bukanlah teman. Guru harus mampu menjalin hubungan yang bersahabat, tetapi tetap bukan teman yang membuat siswa kehilangan tata-krama.

Apa artinya? Menjadi guru efektif yang membuat setiap siswa mampu meraih sukses, bukan hanya soal kompetensi. Guru memang harus menguasai bidang studi yang diajarkan. Bukan hanya menang semalam, yakni sekedar belajar lebih awal daripada siswanya. Guru juga harus terampil mengajar. Sangat mumpuni dalam bidang yang diajarkan tetapi tidak mampu menyampaikan dengan baik dan kurang mampu menerangkan secara komunikatif, juga akan berakibat siswa mengalami kesulitan belajar. Mereka menjadi bodoh bukan karena tidak memiliki potensi untuk menguasai pelajaran dengan baik, tetapi karena guru gagal dalam memahamkan siswa.

Itu sebabnya, kriteria ketuntasan minimal (KKM) dapat dipandang dari dua arah. Pertama,KKM adalah standar minimal yang harus dicapai oleh siswa. Jika ada yang tidak mampu mencapai KKM, maka kesalahan sepenuhnya dapat ditimpakan kepada siswa dan orangtua. Cara pandang inilah yang banyak dianut sekolah-sekolah kita di negeri ini. Kedua, KKM merupakan target kemampuan siswa yang harus dibangun oleh guru. Jika ada siswa yang gagal memenuhi KKM, maka guru melakukan evaluasi caranya mengajar dan menangani siswa. Cara pandang inilah yang diterapkan di sekolah-sekolah efektif, sehingga guru terbiasa melakukan penilaian, evaluasi dan meneliti tindakannya di kelas. Ia berusaha menemukan sebab setiap masalah. Apalagi jika jumlah siswa yang bermasalah, misalnya gagal memenuhi KKM, merupakan mayoritas.
Tetapi, sekali lagi, penguasaan materi yang baik serta keterampilan mengajar bukan aspek utama yang menjadikan seseorang sebagai guru efektif. Ada aspek lain yang lebih mendasar, yakni motivasi, integritas dan komitmen. Yang disiplinnya rendah misalnya, meskipun mampu mengajar secara menarik, tetapi mereka tidak patut menjadi guru olah raga. Apalagi guru motivasi. Yang integritasnya rendah, jangan pernah mengampu pelajaran akidah-akhlak karena keduanya –akidah maupun akhlak—bukan urusan kognitif semata. Ia adalah bagian dari sikap hidup yang harus menyatu dalam setiap helaan nafas kita.

Alhasil, ada yang perlu kita perhatikan. Setiap sekolah perlu memberi perhatian serius untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar. Tetapi ini tidak cukup. Pada saat yang sama, harus ada usaha serius untuk meningkatkan secara terus-menerus kualitas pribadi setiap guru, baik berkait dengan motivasi, iman, akhlak, komitmennya terhadap agama maupun pendidikan, serta integritas pribadi. Ini semua sangat penting untuk memastikan agar setiap siswa mampu meraih sukses. Lebih-lebih untuk sekolah Islam yang telah menyatakan sikap bahwa agama ini yang menjadi ruh dari seluruh kegiatan yang ada di sekolah, peningkatan kualitas pribadi setiap guru tak dapat ditawar-tawar lagi.

Setiap wali murid juga perlu memperhatikan ini sebab di tangan para guru itulah kita serahkan masa depan anak-anak kita!
Read more »

Selasa, 05 Juni 2012

Pak Harfan: Semangat Pengabdian Seorang Guru

“Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya” (Pak Harfan,dalam film Laskar Pelangi)”

Kata-kata yang diucapkan tokoh pak Harfan dalam film laskar pelangi itulah yang terus terngiang di telingaku setelah aku  selesai menonton film itu beberapa hari yang lalu. Sebuah kata-kata bijak yang penuh arti dan menjadi sesuatu yang terpatri dalam sanubari siswa-siswinya karena pak Harfan bukan hanya mengucapkannya,melainkan juga mengamalkan dalam kehidupannya.

Meskipun itu semua cuma rekaan dalam sebuah film, namun aku menilai semangat yang ditularkan sosok pak Harfan dan bu Muslimah dalam film laskar pelangi kiranya dapat menjadi ibrah, sumber hikmah bagi para pendidik di negeri ini. Bagaimana dalam kondisi yang serba sulit kedua sosok pendidik ini terus memberikan dorongan semangat yang luar biasa kepada murid-muridnya untuk menggapai cita-citanya ,menggapai indahnya pelangi. Aku yakin dalam kehidupan nyata, banyak sekali sosok-sosok pendidik seperti Pak Harfan dan Bu Muslimah yang mengajarkan ilmu dengan sepenuh hati. Mengukur tingkat keberhasilan dan kecerdasan anak didiknya bukan dengan nilai/angka-angka namun dengan kemuliaan hati.

Salah satu acara di stasiun televisi swasta pernah mengangkat sosok guru di daerah Banten yang mempunyai pekerjaan sambilan sebagai seorang pemulung. Keterbatasan ekonomi tidak sedikitpun menyurutkan dedikasi beliau untuk anak didiknya. Meskipun untuk kebutuhannya ekonominya beliau harus menjalani pekerjaan yang oleh sebagian besar orang dianggap rendah.

Kata-kata yang diucapkan pak Harfan kiranya dapat menjadi sebuah penggugah bagi para guru dan pendidik di negeri ini. Bahwa menjadi seorang guru, terlepas itu merupakan sutu pekerjaan, profesi atau yang lain hendaknya didasarkan pada semangat mengabdi. Menganggap bahwa tugas menjadi seorang guru merupakan amanat dari Allah untuk menyampaikan serta berbagi ilmu dan hikmah kepada sesama. Berusaha menyampaikan kebenaran dengan sepenuh hati, siap untuk memberi sebanyak-banyaknya dan siap pula untuk tidak menerima (balasan) sebanyak-banyaknya. Karena dengan landasan itulah akan tercetak generasi-generasi penerus yang tidak hanya mempunyai kelebihan kecerdasan otak saja, namun juga mempunyai kemuliaan hati....

*Copas at http://pendidikan.infogue.com/pak_harfan_semangat_pengabdian_seorang_guru
Read more »