Sabtu, 18 Mei 2013

"Menengok Budaya Membaca Masyarakat Jepang"

Komik Jepang

Jika Anda mendengar kata ‘komik’, tentu Anda akan mengaitkannya dengan Negara Jepang. Memang Jepang adalah salah satu Negara yang sukses dalam memproduksi Komik. Kreatifitas menulis diantara para pengarang komik seakan tidak pernah mati. Bahkan komik Jepang sudah merambah ke belahan dunia lainnya seperti juga di Indonesia. Di Indonesia komik Jepang sering menjadi perburuan, terutama untuk komik berseri. Dan kita akan bertanya-tanya, bagaimana bisa ya masyarakat Jepang bisa aktif dalam menulis ? dan untuk mengetahu jawabanya kita perlu mempelajari lagi bagaimana kebiasaan orang-orang Jepang dalam kesehariannya.


Sifat Dasar Orang Jepang yang Pantang Menyerah

Sifat dasar orang Jepang memang tekun dan pekerja keras. Selain itu rata-rata dari mereka mempunyai keinginan untuk selalu belajar dan selalu memperbaiki hasil kerja mereka. Mungkin sifat-sifat dasar ini menjadi salah satu pendukung kehebatan masyarakat Jepang dalam membangun negaranya. Keinginan untuk selalu belajar ini tercermin pada tingginya budaya baca dan tulis masyarakat Jepang.

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Sejarah membuktikan Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun di bawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fastlearner. 

Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85 persen sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia..

Rentetan bencana pun pernah melanda Jepang seperti yang terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo atupun Tsunami yang sering menghampiri Jepang. Ternyata Jepang tidak habis bahkan tetap terus bangkit menjadi salah satu Negara yang maju. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen).

Mungkin Anda akan dibuat takjub dengan kisah bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Jadi semangat pantang menyerah yang sudah mendarah daging di dalam diri orang Jepang merupakan inti dari kesuksesan hidup mereka.

Budaya Membaca di Kalangan Orang Jepang

Rata-rata orang Jepang memang gemar membaca, atau paling tidak gemar mencari informasi -yang tampak remeh sekalipun- dari orang lain. Bahkan banyak para artis yang mempunyai hobi membaca.
Berdasarkan pengamatan Romi Satria Wahono yang pernah 10 tahun tinggal di sana menggambarkan bahwa sebagian besar penumpang densha (kereta listrik), baik anak-anak maupun dewasa sedang asyik membaca buku atau Koran.

Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Pun di ceritakan bahwa banyak penerbit yang mulai membuat manga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA.

Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dan sebagainya disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi.

Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.
Tak heran pemerintah Jepang juga mengambil kebijakan tersendiri guna meningkatkan taraf pendidikan masyarakat Jepang dengan menciptakan kebijakan publik khusus untuk memotivasi masyarakat Jepang kembali ke sekolah (Kikosushijo) pada tahun 1962.

Keberanian untuk membuat prioritas kebijakan publik pada sektor pendidikan adalah suatu syarat mutlak atau tidak bisa tidak (conditio sine qua non). Kebijakan ini mendorong pemerintah Jepang dari pusat sampai ke daerah-daerah untuk antara lain menyediakan secara gratis buku-buku bacaan, membeli lahan untuk pembangunan sekolah dengan sistem pendidikan bermutu, tak ketinggalan mengirim guru-guru untuk bersekolah di luar negeri pada berbagai universitas ternama. 

Akhirnya Sejarah pun mencatat bahwa keunggulan manusia Jepang, yang ditandai lejitan ke peringkat-peringkat atas persaingan global, dicapai melalui kerja keras. Visi Jepang cerah
juga melalui pelembagaan budaya baca.

Budaya ini dibangun lewat kebijakan penyadaran pentingnya membaca. Ia sengaja direncanakan, ditanamkan, ditumbuhkan dan dikembangkan secara serius dan berlanjut. Kesadaran membaca dituntun melalui disiplin tingkat tinggi. Budaya baca memang menggelora ke seluruh lini kehidupan bermasyarakat Jepang. Ia diterima dan dipertahankan karena meyakinkan secara logis sebagai obor penerang masa depan.
Benar-benar mengagumkan bukan?. 

Berdasarkan pengamatan Romi Satria Wahono, kini, membaca dan selalu membaca telah menjadi pemandangan umum. Budaya baca ini terlihat tidak hanya pada jam-jam belajar. Bukan saja ketika berada di sekolah-sekolah atau kampus-kampus. Ia merupakan kebudayaan yang hidup dan menghidupkan ketika sedang berada di bus, kereta api, taman-taman kota, tempat-tempat rekreasi, tidak terkecuali sambil menunggu pesanan makanan di kafe atau restoran.

Toko Buku Ala Jepang

Bila kita ke toko buku, terlihat pada pinggir-pinggir tembok sengaja disediakan meja dan kursi bagi pembaca, demikian ungkap Romi Satria Wahono . Bahkan sering terlihat banyak orang lanjut usia sedang asyik membaca, tak mau kalah, pantang mundur berpandu kaca pembesar huruf. Hebat pula bahwa pelayan toko buku sama sekali tidak terlihat melarang, kalau ada siswa atau mahasiswa yang sengaja mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah di sana. Tentu saja ada aturannya, membaca dengan tenang dan menjaga kebersihan serta keutuhan bahan bacaan.

Menurut data dari bunkanews (situs khusus tentang media massa berbahasa Jepang), jumlah toko buku di Jepang adalah sama dengan jumlah toko buku di Amerika Serikat. Amerika Serikat adalah dua puluh enam kali lebih luas dan berpenduduk dua kali lebih banyak daripada Jepang. Karena itu, data ini menunjukkan bahwa toko buku sangat banyak di Jepang, mudah dijangkau, dan berada sangat dekat dengan masyarakat Jepang. Sebuah kelebihan yang membuat bahagia para konsumen buku dan penerbit tentunya. Juga menunjukkan tingginya apresiasi masyarakat terhadap budaya membaca.

Toko buku yang ada tak melulu toko buku baru. Masih menurut bunkanews, toko buku bekas atau toko buku tua menempati presentase sepertiga jumlah toko buku. Artinya, jumlah toko buku bekas adalah separuh jumlah toko buku baru. Keberadaan toko buku bekas ini sangat menolong konsumen buku, karena mereka bisa mendapatkan buku yang mereka inginkan dengan harga yang jauh lebih murah dan terjangkau. Bahkan terkadang, kita bisa mendapatkan buku-buku tua yang sangat bernilai namun sudah tak lagi diterbitkan. Toko-toko buku ini berani untuk buka sampai larut malam, lebih malam dari departemen store maupun supermarket. Mengapa demikian? Karena kaki para konsumen buku terus mengalir sampai malam. Banyak di antara mereka yang datang hanya untuk sekedar "tachi yomi" (artinya membaca sambil berdiri di toko buku tanpa membeli) melepas kebosanan di malam hari. 

Tachiyomi sekilas tampaknya hanya merusak pemandangan toko. Namun ternyata oplag penjualan berbanding lurus dengan jumlah orang yang tachiyomi. Artinya, ada kencenderungan sehabis tachiyomi orang tergerak untuk membeli bacaan lainnya.

Kecenderungan orang Jepang pada aktivitas membaca dimanfaatkan oleh para penerbit sebagai ajang promosi buku-buku mereka di televisi.Di salah satu televisi swasta ada acara yang disebut acara "toko buku Sekiguchi".Dalam acara ini para artis atau pelawak mempresentasikan referensi suatu buku, sedangkan artis lain yang hadir diminta untuk membeli berdasarkan kesan mereka terhadap presentasi tersebut dari kocek mereka sendiri. Acara ini sangat membantu bagi penggemar buku yang sibuk dan tak sempat berlama-lama di toko buku. Penonton bisa melihat referensi yang divisualisasikan dalam layar TV dan memesan lewat internet atau telpon jika tertarik untuk membeli. Mirip sebuah "televisi shopping", namun yang dipromosikan adalah buku.

Ketika kita masuk ke sebuah toko buku, biasanya ada beberapa hal khas yang kita jumpai. Pertama, biasanya buku-buku bacaan di Jepang, seperti novel, kumpulan essai, ataupun ilmiah populer didesain dalam ukuran kecil, ringan, dan mudah dibawa kemana-mana. Sehingga kita tidak enggan membawa buku tersebut baik ketika dalam perjalanan ke kantor ataupun berbelanja. Orang yang membaca buku (tentu juga komik ataupun majalah) akan sangat mudah kita temui di bis-bis kota ataupun di kereta-kereta listrik. Kedua, kita akan susah mendapatkan buku-buku berbahasa Inggris di toko-toko buku Jepang pada umumnya. Ini karena, para penerbit Jepang sangat memperhatikan penerjemahan buku-buku hasil karya penulis dari negara-negara lain. 

Bahkan banyak kasus buku best seller yang diterbitkan di negara lain diterbitkan pula terjemahannya di Jepang dalam waktu yang hampir berbarengan, seperti buku Harry Potter yang ngetop di Amerika itu. Ini tentu saja karunia bagi masyarakat Jepang khususnya para penggemar buku. Mereka bisa menikmati hasil karya penulis-penulis beken negara lain dalam bahasa mereka sendiri. Suatu karunia yang kita pikir hanya dipunyai oleh negara-negara berbahasa Inggris, seperti Amerika atau sebagian negara Eropa. Hanya toko-toko besar tertentu (dan biasanya di daerah perkotaan) yang menyediakan buku-buku impor berbahasa Inggris dan bukan terjemahannya.

Ke Perpustakaan Untuk Membaca 

Selain toko buku, perpustakan pun sangat mudah kita temui di sekitar kita. Di daerah pedesaan, biasanya, perpustakaan ini dikelola oleh pemerintah daerah setingkat kecamatan di Indonesia. Keberadaannya mudah dijangkau oleh masyarakat pedesaan. Sebab itu, meskipun di pedesaan, buku bukanlah barang mahal yang sulit di dapat.
Pada perpustakaan-perpustakaan, petugas keamanan terlihat senantiasa berdiri atau berkeliling, walau jarang tampak pengunjung perpustakaan yang menimbulkan kebisingan. Mereka tidak akan segan-segan menegur tegas, bila terdengar atau kelihatan ada pengunjung yang terlalu lama berbisik ria. Iya, walau hanya berbisik, bukan bersuara keras, tidak diperbolehkan. Perilaku ini dianggap mengganggu orang lain yang sedang membaca dan menciderai misi perpustakaan. Semacam 'delik penodaan' dalam sakralitas dan martabat masyarakat baca nan terdidik.

Sumber:
http://www.bimba-aiueo.com
Read more »

Jumat, 17 Mei 2013

Review Buku "Udah Putusin Aja!" oleh Felix Siaw

Buku apa ini? Apa hebatnya isi buku ini? hebatnya buku ini, telah membuat banyak remaja mengakhiri hubungan pacaran yang sudah berjalan. Hebat bukan?
#hee...kata yang promo c gt .. (lho??)

Jadi begini. Buku ini memang isinya adalah tentang bagaimana islam menyediakan jurus jitu nan hebat dalam bercinta. Yang tiada jurus cinta lain yang dapat menyetarainya apalagi melebihinya. Dan dengan jurus bercinta yang disediakan islam ini, cinta bakal menghasilkan keberkahan. Efeknya demikian dahsyat. Dahsyat dunia-akhirat. Sudah pasti bakal ada manfaatnya. Sudah pasti pula bakal bikin kita terhindar dari segala macam yang bakal mencelakakan kita. Pokoknya, jurusnya sempurna. Kok sempurna? Karena, Yang menyediakan jurus jitu bercinta ini adalah Yang Menciptakan kita. Yang Paling Mengetahui segala hal. Ialah Allah Swt. 

Greget banget untuk mereka yang cerita cintanya kerap diterjang hujan badai duri dan jarum. Mereka yang penuh dengan lika-liku masalah dalam cerita cintanya. Maupun mereka yang belum menemukan cinta yang sesungguhnya. Sebab, itu semua terjadi hanya karena satu penyebab. Penyebabnya adalah, jurus bercinta yang salah. Bukan jurus cinta yang diajarkan islam. Melainkan jurus cinta yang penuh salah kaprah, yang diajarkan oleh orang-orang tak beres. Seperti halnya para artis Barat, Korea, Jepang, dan lai-lain yang notabene nggak ngerti islam, serta tidak indah cerita cintanya, hanya indah di sandiwara saja. 

Buku ini cocok dibaca oleh segala kalangan. Mulai dari:

  • Laki-laki
  • Perempuan
  • Yang jomblo
  • Yang pacaran
  • Yang kayaknya pacaran dengan istilah teman tapi mesra, teman dekat, satu kelompok, kakak-adik, tunangan, dan lain-lain
  • Yang baru putus
  • Anak SD
  • Anak SMP
  • Anak SMA
  • Mahasiswa
  • Karyawan
  • Pengusaha
  • Pengangguran, belum berpenghasilan finansial
  • Mereka yang ingin menikah, tak tahu mau mulai darimana
  • Mereka yang sudah siap menikah
  • Mereka yang belum siap menikah
  • Mereka yang dalam perencaan pernikahannya ada masalah. Seperti halnya tidak direstui, belum punya modal, belum siap, dan masalah lainnya
  • Orang tua, untuk membimbing anak-anaknya. Maupun untuk orang tua itu sendiri yang kerap bermasalah dengan istrinya/suaminya
  • De-el-el pokoknya...
Sudah sepatutnya saya salut dengan ilmu yang dipaparkan oleh ustadz Felix. Tapi, tidak hanya itu, dalam kacamata passion desain grafis saya,  isinya full colour Sudah begitu, bahan kertas cover dan kertas isi halaman-halamannya luar biasa bagus!  Keren!  Kayak infografik gitu. Ketika pertama kali memegang buku ini, sempat bergumam di pikiran saya, "Jangan-jangan dalam pembuatan buku ini, ustadz Felix nombok nih?" 

Begitulah karena sangkin mewahnya desain isi bukunya. Yah, coba saja lihat gambar-gambar berikut ini. Ini adalah preview isi bukunya yang saya bilang kayak infografik gitu:


Bukan mustahil, dengan desain begini, ini buku bakal bisa menimbulkan awareness, attractive, dan action sesuai yang author diinginkan. 

Pokoknya harga buku ini sangat murah jika dibandingkan dengan manfaat yang kita dapat maupun jika dibandingkan dengan fisik bukunya. Kata "mahal" sama sekali bukan alasan bila tidak bisa membelinya. Sebab, menurut saya, buku ini sangat tidak cocok digandengkan dengan kata "mahal". Malahan, murah sangat. Murah sangat! happy senang laugh tertawa Cocok pulalah bila buku ini dihadiahkan untuk pacar Anda. 

#Semoga Bermanfa'at...Barakallah... :)

Notes Paling penting..hihii... ::
Buat temen2 yang mau beli ni buku...khususon daerah Kabupaten "CILACAP"
buruaaann pesen di ::

PUSTAKA AN-NUR / H@BIB Colection Jalan Gatot Subroto 138 B
(sblah kiri SD. Muhamadiyah 08) and no hp. 083863460451

Read more »

~ Catatan Harian Kehidupan ~

Dear Diary..
Kalimat pembuka yang pasti sering sekali kita dengar..
mungkin,
saat ini kita jengah dengan kalimat ini


Tapi,
coba sejenak buka buku harian lama kita
kita akan tersenyum simpul,
bahkan barangkali tertawa terbahak


Rekam jejak melalui tulisan memang bentuk dokumentasi paling efektif
untuk bisa menjadi sarana refleksi dan juga evaluasi


Dulu mungkin kita akan berpikir konyol banget, knpa siy harus curhat di buku Diary..
Gaya ABG bgt ya curhat curhit di buku harian..

Beberapa waktu ini,
mencoba berhenti sejenak
sembari
mengumpulkan Diary-diary sejak SMA sampai saat ini
yang ternyata merekam banyak sekali kejadian..

dan,
Diary-diary inilah yang kala lelah bisa menjadi salah satu jalan memberikan spirit untuk selalu bersyukur akan nikmat keimanan dan hidayah hingga saat ini..
Diary-diary inilah yang kala jenuh mengajarkan bahwa skenario Allah kepada hamba-Nya itu sangat indah..
Diary-diary ini yang mengembalikan memori-memori tentang kebahagiaan untuk menghapus kesedihan..


dan ternyata
diary-diary ini memberikan nasihat pula tentang sebuah peristiwa
pada masa depan yang pasti akan kita lalui semua


hari dimana
tidak ada satu orangpun yang mampu untuk berlari ataupun menutup-nutupi


semua akan terbuka dengan sempurna


membaca buku harian yang hanya merekam sedikit peristiwa saja
membuat menjadi malu hati
membuka kembali banyak hal tentang khilaf diri


Wahai diri
betapa banyak kesalahan dan kelalaian yang telah engkau lakukan
Mengapa sombong tetap dalam kemaksiatan

Membuka dan meresepi kejadian yang tertuang di buku harian seolah simulasi akan kejadian di hari akhir nati
dimana setiap orang akan diberikan dan dipertunjukkan buku catatan amal kehidupannya


“Dan diletakkan kitab(catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apa ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan(tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun. “
(QS. Al-Kahf:49)

ah..
ingin menutupi muka tapi pasti percuma
rasa malu itu barangkali tak hanya membuat wajah ini menjadi memerah
bahkan seluruh sendi terasa ikut meluruh
Ingin rasanya kembali ke dunia tapi tak akan bisa..
Waktu yang sudah pergi tak akan mungkin akan kembali

Lantas,
kembali merenung ke dalam diri
diletakkan dimanakah kelak buku catatan kehidupan akan diberikan? 

lalu konsekuensi apa yang akan diterima dari semua itu?

“Pada hari itu kamu dihadapakan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi (bagi Allah). Adapun orang-orang yang diberikan kitab di tangan kanannya, maka ia berkata, “ambillah, bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin, bahwa (suatu saat) aku akan menerima perhitungan terhadap diriku”. Maka orang itu berada dalam hidupan yang diridhai, dalam surga yang tingi, buah-buahan yang dekat, (kepada meraka dikatakan), “Makan dan minumlah  dengan nikmat karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”
(QS. AL-Haqqah: 18-24)

ataukah

“Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, “alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku. Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku, wahai, kiranya (kematian) itulah yang menyudahi segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. kekuasaanku telah hilang dariku.” (Allah berfirman), “Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dialah orang yang tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka pada hari ini di sini tidak ada seorang teman pun baginya.”
(QS. Al-Haqqah 25-35)

*Ketika hati teramat keras, hingga seolah semua nasihat sudah tak mampu lagi menembusnya.. nasihat terbaik itu adalah kematian dan tentang kehidupan setelah kematian...


Read more »

Banyak Sarang Laba-Laba

*Fuh.. Fuh..*
Bismillah..
Bebersih blog dulu..
Tiga bulan lebih blog ini ditinggal…
Dipenuhi kegiatan-kegiatan rutin..
Belajar jadi guru..
Sakit.., kecapean de-el-el
Sekarang belajar jadi mahasiswa (lagi)..
Ayo nulis lagi Titi…
 
Read more »

Buku Barakallahu Laka "Bahagianya Merayakan Cinta"

Barakah itu membawa senyum, meski air mata menitik nitik.
Barakah itu menyergapkan rindu ditengah kejengkelan.
Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belaian lembut disaat dada kita sesak oleh masalah.

Sesudah menikah, semoga barakah hidup kita semakin bertambah. Barakah mengasah rasa, menempa jiwa, memberikan sebuah dunia yang kadang tak tertembus penglihatan manusia biasa.

Suatu hari mungkin kita menyaksikan seorang lelali, ikut antri di warung pecel lele di daerah Monjali (Monumen Jogja Kembali). Mendung bergantung sore itu, dan warna hitam yang menyeruak di barat mlai mendekat. Dia, berkaos putih yang lehernya mulai geripis, di kepalanya ada pecis putih kecil, dan celananya beberapa senti di atas mata kaki. Sandal jepit swallow yang talinya hampir putus nyangkut di antara jempol dan jari kakinya. Seperti yang lain ia juga memesan, '' Pecel Lele Mas!''
''Berapa?'' tanya Mas penjual yang asyik menguleg sambal terasi sambil sesekali meraih sothil besar untuk membalik gorengan lele di wajan raksasa. Gemuruh bunyi kompor mengharuskan orang bicara sedikit keras.
''Satu. Dibungkus...'' Perlahan tangannya merogoh saku celana, lalu duduk sembari menghitung uangnya. Malu-malu, tangannya dijorokkan sedikit ke bawah meja. Uang pecahan ratusan yang sudah disatukan dengan selotip bening per sepuluh keping, pas jumlahnya sesuai harga.

'' Nggak makan sini aja Mas?? Takut keburu hujan ya?''
''hi hi, buat istri...''
''Oowh...''

selesai pesanannya dibungkus, bersamaan dengan bunyi keritik yang mulai menggambar titik-titik basah di tenda terpal milik Mas Pecel Lele. Agak berlari ia keluar, tapi melebatnya sang hujan jauh lebih cepat dari tapak-tapak kecilnya.
Khawatir pecel lele untuk istri tercinta yang hanya dibungkus kertas akan berkuah, ia selipkan masuk ke perutnya. Bungkusan itu ia rengkuh erat dengan tangan kanan, tersembunyi di balik kaos putih yang mulai transparan disapu air. Tangan kirinya ke atas, mencoba melindungi kepalanya dari terpaan ganas hujan yang tercurah memukul-mukul. Saat itu ia sadar, ia ambil pecinya. Ia pakai juga untuk melapisi bungkusan pecel lele.huff, lumayan aman sekarang. Tapi 3 kilometer bukan jarak yang dekat untuk berjalan di tengah hujan bukan??

Apa perasaan anda melihat lelaki ini?kasihan. Iba. Miris. Sedih.
Itukan Anda!
Coba tanyakan pada lelaki itu, kalau anda bertemu. Oh, sungguh berbeda. Betapa berbunga hatinya. Dadanya dipenuhi heroisme sebagai suami baru yang penuh erjuangan untuk membelikan penyambung hayat istri tercinta.
Jiwanya dipenuhi getaran kebanggaan, keharuan dan kegembiraan. Kebahagian seolah tak terbatas, menyelam begitu dalam di kebeningan matanya. Ia membayangkan senyum yang menantinya, bagai bayangan surga yang terus terhidupkan yang terus terhidupkan dirumah petak kontrakannya.
Di tengah cipratan air dari mobil dan bus kota yang bersicepat, juga sandalnya yang putus lalu hilang ditelan lumpur becek, ia akan tersenyum. Senyum termanis yang di saksikan jagad. Seingatnya, ia belum pernah tersenyum semanis itu saat ia membujang,.. Subhaanallaah..

* Cerita ini bersumber dari kisah nyata yang dialami Ustad Mohammad Fauzil Adhim (penulis buku Kupinang Kau dengan Hamdallah)

Saat mereka mendoakan, ''Barakallahu Laka...''
kubisikan kepadamu, ''Cintamu sehangat ciuman bidadari...''
Kau menjawab, ''Ada barakah di kala bidadari cemburu.''

Ketika mereka meminta lagi pada Allah,
''Wa baarakallahu 'alaika...''
Lirikanmu menelisik hatiku, ''Dalam badai, dekap aku lebih erat!''
''Bersama barakah, masalah akan menguatkan jalinan, '' begitu kau yakinkan.

Lalu mereka menutup, ''Wa jama'a bainakuma fii khaiir...''
Maka tangan kita saling berpaut dan jemarinya menyatu,
''Genggam tanganku, rasakan kekuatan cinta!''

yang belum / sdg dalam proses menuju pernikahan,,ataupun yang sudah menikah...
Selamat membaca bukunya....
InsyaAllah,,banyak ilmu yang akan kita dapat... :)

#Sob, aye dah pernah baca ni buku cuman belon selese ,...rugi dah kalo lum pernah baca, hehe,...
So,..buruan beli and baca ni buku ya,..buat yang belum nikah penting bgt bwt nambah ilmu,..
thank's before,... :)

Notes Paling penting..hihii... ::
Buat temen2 yang mau beli ni buku...khususon daerah Kabupaten "CILACAP"
buruaaann pesen di ::

PUSTAKA AN-NUR / H@BIB Colection Jalan Gatot Subroto 138 B
(sblah kiri SD. Muhamadiyah 08) and no hp. 083863460451 
Read more »

Senin, 18 Februari 2013

LATIHAN SOAL BILANGAN ROMAWI SD Kelas IV

Angka Romawi atau Bilangan Romawi adalah sistem penomoran yang berasal dari Romawi kuno. Sistem penomoran ini memakai huruf Latin untuk melambangkan angka numerik. Download Soal Bilangan romawi berikut.
Bilangan Romawi 2 Kelas IV Sd by SD Sidakaya 03 ( Penulis : Istiyanto )
Read more »

Senin, 05 November 2012

Betapa Menentukannya Seorang Guru

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Ingin anak Anda sukses? Perhatikan, siapa gurunya! Sebuah riset yang dilakukan oleh S. Paul Wright, Sandra Horn dan William Sanders (1997) terhadap enam puluh ribu siswa, memberi pelajaran berharga kepada kita betapa pentingnya memperhatikan siapa yang menjadi guru bagi anak-anak kita. Hasil riset yang mereka lakukan menunjukkan bahwa faktor paling penting yang berpengaruh secara langsung terhadap belajar siswa adalah guru. Artinya, ada berbagai faktor yang mempengaruhi minat, keterampilan, kemampuan dan antusiasme belajar siswa, baik yang ada di sekolah maupun di rumah. Tetapi dari sekian banyak faktor, yang paling berpengaruh adalah guru. Maka, jika ada anak yang kurang bergairah saat belajar, pertanyaan pertama yang harus dijawab secara tuntas sebelum memanggil orangtua adalah bagaimana guru mengelola kelas dan menjalin hubungan dengan siswa-siswanya. Di luar itu, ada pertanyaan lain yang harus dijawab, apakah guru memiliki integritas pribadi atau tidak. Ini berarti, kompetensi saja tak cukup.

Kembali pada riset yang kita perbincangkan di awal tulisan ini. Wright dan kawan-kawan mencatat bahwa, guru-guru yang efektif mampu menjadikan para siswanya berkembang secara optimal. Ini berlaku untuk semua siswa dengan berbagai jenjang prestasi, tidak peduli seberapa majemuk ragam anak-anak di kelas. Jika di kelas banyak anak yang gagal mengembangkan kemampuannya secara efektif, berarti guru tidak mampu mengelola kelas atau bahkan bisa lebih dari itu, yakni tidak mengenali para siswanya dengan baik. Anak yang tidak bisa memusatkan perhatian dalam rentang waktu yang lama, boleh jadi karena kemampuannya mencerna pelajaran yang kurang, boleh jadi karena minatnya yang lemah. Ini berarti, meskipun sama masalahnya, langkah yang perlu diambil oleh guru akan sangat berbeda.

Catatan ini menunjukkan bahwa, kegiatan belajar-mengajar yang efektif sangat sulit terjadi apabila guru tidak mampu mengelola kelas dengan baik. Jika siswa banyak yang menunjukkan perilaku menyimpang atau antar siswa tidak ada rasa saling hormat, tak ada aturan dan prosedur yang dihormati sebagai panduan perilaku, dan rasa persahabatan antar siswa sangat rendah, maka kekacauan di kelas akan menjadi hal yang wajar. Dalam situasi seperti ini, kata Marzano dalam bukunya yang bertajuk Classroom Management That Works (2003), baik guru maupun siswa sama-sama menderita. Guru harus berjuang mati-matian untuk mengajar, dan siswa hampir pasti belajar jauh lebih sedikit daripada yang seharusnya mereka lakukan.

Berbagai riset menunjukkan bahwa anak-anak yang kemampuan matematikanya rendah dengan skor 50% ke bawah, meningkat pesat kemampuannya setelah 2 tahun jika ia belajar di sekolah yang efektif dan guru yang juga efektif. Sedangkan anak-anak yang belajar di sekolah rata-rata dengan kemampuan guru mengelola kelas yang juga rata-rata, tidak mengalami perubahan apa pun setelah 2 tahun. Tetap saja kemampuannya tidak berkembang dengan baik. Sementara anak-anak yang belajar di sekolah yang tidak efektif dan –celakanya—memperoleh guru yang juga tidak efektif, justru makin lama makin bodoh. Semakin lama ia bersekolah semakin terpuruk prestasinya, semakin tidak mampu ia mengembangkan potensinya.

Pelajaran apa yang bisa kita petik? Setiap anak bisa mengembangkan kemampuannya. Mereka bisa meraih sukses jika memperoleh bimbingan dari guru yang baik; guru yang mampu menjalin hubungan akrab dengan siswanya secara bermartabat, bisa membangkitkan tanggung-jawab siswa bagi kelangsungan pembelajaran yang penuh semangat, tegas dalam menegakkan disiplin sekaligus dapat melakukan intervensi disiplin secara ketat di kelas, mampu membuat aturan dan prosedur kelas yang menjadi panduan bagi siswa dalam berperilaku, serta memiliki kecakapan membangun sikap mental yang tepat bagi siswanya maupun dirinya sendiri.

Saya perlu menggarisbawahi masalah kemampuan menjalin hubungan akrab secara bermartabat. Apa yang perlu kita perhatikan di sini? Selain terampil menjalin keakraban dengan siswa, yang tidak boleh ditawar-tawar adalah keharusan menjaga batas antara siswa dan guru. Akrab dan bersahabat (friendly) memang harus, tetapi harus diingat bahwa guru adalah seorang pendidik dan pembimbing yang bertugas memberi arahan. Ada garis tegas yang perlu diperhatikan agar siswa tetap memiliki tata-krama yang baik. Harry K. Wong & Rosemary T. Wong bahkan mengingatkan dalam bukunya yang berjudul How to Be An Effective Teacher: The First Days of School agar guru tidak menjadi teman. Buku yang berisi panduan tentang apa yang harus dilakukan oleh guru pada bulan-bulan pertama di sekolah ini menegaskan bahwa setiap guru harus akrab, peduli, penuh cinta dan sekaligus peka terhadap siswa. Tetapi mereka bukanlah teman. Guru harus mampu menjalin hubungan yang bersahabat, tetapi tetap bukan teman yang membuat siswa kehilangan tata-krama.

Apa artinya? Menjadi guru efektif yang membuat setiap siswa mampu meraih sukses, bukan hanya soal kompetensi. Guru memang harus menguasai bidang studi yang diajarkan. Bukan hanya menang semalam, yakni sekedar belajar lebih awal daripada siswanya. Guru juga harus terampil mengajar. Sangat mumpuni dalam bidang yang diajarkan tetapi tidak mampu menyampaikan dengan baik dan kurang mampu menerangkan secara komunikatif, juga akan berakibat siswa mengalami kesulitan belajar. Mereka menjadi bodoh bukan karena tidak memiliki potensi untuk menguasai pelajaran dengan baik, tetapi karena guru gagal dalam memahamkan siswa.

Itu sebabnya, kriteria ketuntasan minimal (KKM) dapat dipandang dari dua arah. Pertama,KKM adalah standar minimal yang harus dicapai oleh siswa. Jika ada yang tidak mampu mencapai KKM, maka kesalahan sepenuhnya dapat ditimpakan kepada siswa dan orangtua. Cara pandang inilah yang banyak dianut sekolah-sekolah kita di negeri ini. Kedua, KKM merupakan target kemampuan siswa yang harus dibangun oleh guru. Jika ada siswa yang gagal memenuhi KKM, maka guru melakukan evaluasi caranya mengajar dan menangani siswa. Cara pandang inilah yang diterapkan di sekolah-sekolah efektif, sehingga guru terbiasa melakukan penilaian, evaluasi dan meneliti tindakannya di kelas. Ia berusaha menemukan sebab setiap masalah. Apalagi jika jumlah siswa yang bermasalah, misalnya gagal memenuhi KKM, merupakan mayoritas.
Tetapi, sekali lagi, penguasaan materi yang baik serta keterampilan mengajar bukan aspek utama yang menjadikan seseorang sebagai guru efektif. Ada aspek lain yang lebih mendasar, yakni motivasi, integritas dan komitmen. Yang disiplinnya rendah misalnya, meskipun mampu mengajar secara menarik, tetapi mereka tidak patut menjadi guru olah raga. Apalagi guru motivasi. Yang integritasnya rendah, jangan pernah mengampu pelajaran akidah-akhlak karena keduanya –akidah maupun akhlak—bukan urusan kognitif semata. Ia adalah bagian dari sikap hidup yang harus menyatu dalam setiap helaan nafas kita.

Alhasil, ada yang perlu kita perhatikan. Setiap sekolah perlu memberi perhatian serius untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar. Tetapi ini tidak cukup. Pada saat yang sama, harus ada usaha serius untuk meningkatkan secara terus-menerus kualitas pribadi setiap guru, baik berkait dengan motivasi, iman, akhlak, komitmennya terhadap agama maupun pendidikan, serta integritas pribadi. Ini semua sangat penting untuk memastikan agar setiap siswa mampu meraih sukses. Lebih-lebih untuk sekolah Islam yang telah menyatakan sikap bahwa agama ini yang menjadi ruh dari seluruh kegiatan yang ada di sekolah, peningkatan kualitas pribadi setiap guru tak dapat ditawar-tawar lagi.

Setiap wali murid juga perlu memperhatikan ini sebab di tangan para guru itulah kita serahkan masa depan anak-anak kita!
Read more »