Jumat, 11 April 2014

SEINDAH MUTIARA :)

Sungguh di zaman ini, sulitnya mencari pria dengan iman sekuat Yusuf kala digoda wanita. Susahnya menemukan lelaki qonaah, di kala begitu banyak pria memilih seperti Qorun yang tergila -gila harta. Di saat banyak yang lebih suka menjadi seperti artis-artis yang bangga dengan kegagahan fisik. Pada saat banyak pria merasa hebat bisa mengoleksi jumlah wanita yang “jatuh hati” padanya. Di kala banyak pemuda yang lebih memilih kesenangan syahwat bahkan sekalipun menjadi gigolo. Di saat banyak pria lebih senang bisa menaklukkan para wanita untuk dipacari.
Namun pria shalih walau sedikit tapi ia ada. Memang tak sehebat Yusuf, tapi amat luar biasa kala memilih untuk taat pada Allah SWT. Ia menang kala berperang mengendalikan hawa nafsunya. Ia sama seperti Yusuf kala tak mau tergoda wanita. Selama tak ada uzur ia ada di masjid setiap datang waktu shalat. Terus menerus menuntut ilmu agama adalah aliran darahnya. Ia pria yang memiliki keberanian tiada tanding dalam beramar ma’ruf nahi munkar di manapun berada sekalipun nyawa taruhannya. Ia imam yang cerdas dan bijaksana kala mendidik anak istrinya. Segala sisi dalam dirinya, hati, pemikiran dan perilakunya selalu terikat dengan aturanNya. Cintanya yang utama adalah pada Allah, rosul, dan jihad fii sabilillah.
Setali tiga uang, teramat sulit juga mencari wanita shalihah. Tak perlu setegar dan selembut Khatijah. Tak apalah bila tak secerdas dan secantik Aisyah. Tidak mengapa juga bila tak setaat dan sehebat Fatimah. Hanya satu yang penting, lisan, hati, pemikiran dan perilakunya senantiasa terikat aturan Allah. Itu sudah amat cukup. Dan wanita seperti ini pun ternyata sulit dicari.
Wanita yang tak memperturutkan hawa nafsu memang sulit ditemukan. Wanita yang tak suka memperlihatkan lekuk tubuh memang jarang. Wanita yang tidak suka menggunjing memang langka. Wanita yang suka menyembunyikan aib orang lain memang teramat sedikit jumlahnya. Tapi ia ada. Ia nyata. Ia ada di tengah kerumunan orang. Pakaiannya sopan, tertutup, longgar, tak tampak auratnya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sementara mungkin di sebelahnya adalah wanita-wanita yang terlihat rambut, betis, paha, bahkan dada. Bisa jadi di sekelilingnya adalah wanita yang berpakaian tapi ketat sehingga terbentuk jelas keindahan tubuhnya. Sangat mungkin di sekitarnya adalah wanita berkerudung tipis hingga terlihat bayang rambutnya, atau wanita berkerudung tapi baju dan celananya tetap menonjolkan bentuk badan. Tapi ia tetap kokoh tak tergoda untuk mengikuti para wanita di kanan kirinya. Meski ia pun memiliki body dan kulit yang sama indah dengan mereka. Tapi ia tetap menjaganya karena Allah, hatinya tak rela menjadi “santapan mata” makhluk bernama pria.
Wanita shalihah ia ada di sepertiga malam terakhir. Kala banyak manusia lelap tertidur. Saat banyak wanita sepertinya dugem di diskotik atau menjajakan tubuhnya di hotel-hotel, tempat prostitusi atau dimanapun nafsu bisa tersalurkan. Di dini hari yang dingin ia menangis, mohon ampun atas segala dosanya. Berdoa, dan mengadu pada Sang Maha Bijaksana.
Wanita shalihah, ia berada dalam rumah, di saat banyak teman-teman atau tetangganya berkumpul ngobrol sia-sia bahkan bergosip dan membicarakan kejelekan orang lain. Dan ia semakin tenggelam di dalam rumah dengan segala aktifitas mendekatkan diri pada RobbNya kala lisannya beramar ma’ruf nahi munkar hanya dipandang sebelah mata.
Wanita shalihah, ia tak berhias selain untuk suaminya. Meski mungkin teman-temannya, tetangga-tetangganya, bahkan saudara-saudaranya selalu memoles wajahnya dengan bedak tebal, lipstik, perona pipi, bulu mata atau eye shadow agar tampak cantik. Ia tetap kuat tak tergoda, tetap polos wajahnya di kala banyak wanita memilih bermetamorfosis saat keluar rumah.
Wanita shalihah, ia lebih memilih berada di masjid dan majelis-majelis ilmu daripada jalan-jalan dan cuci mata di mall-mall. Ia lebih memilih menghafal Alquran daripada berinteraksi di dunia maya hanya untuk menunjukkan eksistensi diri. Toh, berinteraksi sesama perempuan bisa dilakukan via sms, email, menelpon atau bertatap muka langsung. Jauh lebih terjaga daripada fb dan sejenisnya, karena bisa jadi mengundang lawan jenis nimbrung tiba-tiba.
Wanita shalihah, ia sangat terjaga lisannya. Tak mungkin mencaci maki orang lain. Bukan levelnya untuk mengeluarkan kata-kata buruk apalagi membicarakan aib orang lain. Ia sangat menjaga agar orang lain aman dari ucapannya.
Wanita shalihah, ia juga amat menghormati ibunya. Tak setitikpun memiliki kata dan sikap yang bisa melukai wanita yang telah melahirkannya. Tak pernah sekalipun ia berani membuat wanita mulia itu meneteskan air mata kesedihan. Begitu teramat berharga seorang ibu baginya. Laksana kristal yang harus dijaga.
Wanita shalihah, pasti takut pada Allah. Ia sangat peduli dengan dosa-dosa yang dimiliki. Ia sangat care untuk tak pernah lagi melakukan tindakan-tindakan yang melanggar syara. Ia selalu menjadikan segala dosa dan kemaksiatan di masa lalu sebagai cermin agar tak pernah terulang lagi.
Wanita shalihah dan pria shalih memang langka. Ia laksana orang asing. Benar sekali sabda rosul, ” Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)
Wanita shalihah dan pria shalih, namun ia ada dan akan selalu ada. Karena ia sebuah pilihan. Menjadi shalih dan shalihah adalah pilihan. Tiap diri bisa untuk memilih, menjadi shalih shalihah atau pendosa. Semakin banyak yang memilih menjadi shalih shalihah, maka akan semakin banyak yang akan mampu menginspirasi dan mengangkat saudaranya yang belum terbuka pintu hatinya. Semakin banyak yang bisa menebar manfaat bagi saudaranya seiman.
Wanita shalihah dan pria shalih laksana mutiara. Tetap indah berkilau walau ada dalam kubangan lumpur. Hidupnya penuh dengan cintaNya. Semoga menjadi seperti mutiara akan menjadi pilihan banyak anak manusia. Rosulullah bersabda,”  Bila hamba-Ku dekati-Ku sejengkal, maka Aku akan dekati dia sehasta. Bila dia dekati-Ku sehasta, maka Aku akan dekati dia sedepa. Dan apabila dia datang mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan dekati dia dengan berlari” (HR Bukhari)
Mengubah diri menjadi seperti mutiara memang tak mudah. Ada setan yang selalu mengintai. Tapi ingatlah bahwa kematian pun selalu mengiringi setiap langkah manusia, dimanapun berada. Dan cukuplah janji Allah menjadi sumber kekuatan. Sebuah hadits qudsy riwayat Tirmidzi dari Anas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “bahwa Allah telah berfirman, “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi (dosamu). Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula” (HR Tirmidzi).

Sungguh, kita indah bila menjadi seperti mutiara. Wallahu’alam.
Sumber : Eramuslim.com
Read more »

Sabtu, 30 November 2013

JODOHMU ADALAH CERMINAN DIRIMU, BENARKAH???

dakwatuna.com - Waktu menunjukkan pukul 23.50. Mata ini masih enggan terpejam, walaupun sudah segala cara kucoba. Mulai dari memaksakan mata untuk terpejam, baca buku (he, katanya baca buku bisa menjadi obat mujarab untuk bisa memejamkan mata buat sebagian orang) dan terakhir mematikan lampu. Akhirnya kucoba untuk memanfaatkan dini hari ini, untuk merefleksi. Memuhasabah kembali, mereview kejadian-kejadian yang telah aku lewati.

Teringat beberapa pekan lalu. Ketika pertemuan rutin kami di salah satu rumah. Awalnya pembahasan hari itu mengenai pengalaman rekan-rekan yang sudah menikah. Bagaimana proses sebuah pernikahan itu agar tetap sesuai dengan syariat yang telah ditentukan. Bagaimana sehingga akhirnya kita bisa menentukan dan memantapkan hati agar menerima seseorang untuk menjalankan visi hidup secara bersama. Yakni bukan hanya sekadar menjalin kasih sayang antar dua makhluk. Bukan hanya menikahkan dua orang anak manusia. Tetapi juga menikah dua keluarga yang pasti memiliki perbedaan yang signifikan. Selain itu menikah juga membangun keluarga yang sakinah, mawaddah dan di bawah rahmat Allah serta menjadikan regenerasi yang mampu melanjutkan perjuangan dijalan dakwah ini. Ada banyak hal yang bisa dijadikan masukan dan nasihat bagi kami yang nota bane belum berumah tangga. Sehingga sesekali ada gurauan yang ku lontarkan kepada kakak-kakak agar menyegerakan dan menyempurnakan separuh din nya.

Ada satu kisah menarik yang diceritakan. Yaitu tentang seorang laki–laki yang sudah hampir lanjut usia. Umurnya sudah hampir kepala 4. Anggap lah si A. Tetapi ia masih belum menemukan jodoh. Padahal dari sisi lain dia adalah seorang yang mengerti agama, pintar, dan mampu dari segi materil. Hanya saja ketika ada yang bertanya criteria seperti apa yang ia inginkan. Sampai-sampai dari sebanyak-banyaknya wanita yang ia temui. Belum ada yang membuatnya tertarik untuk dijadikan pendamping. Mungkin inilah sumber masalah yang membuat ia belum menikah. Ketika ditanya sahabatnya (si B) calon seperti apa yang ia inginkan. Dan A menjawab, “dia harus seperti Siti Khadijah. Minimal mendekati. Harus cerdas, kaya jika perlu putih, pintar ini, pintar itu dll”. Si B kaget, tapi mencoba menenangkan diri. Sambil bertanya lagi kepada si A. “Jika kamu menginginkan kriteria pendamping yang kamu sebutkan tadi. Dan hampir mendekati seperti ibunda Khadijah RA. Apakah kamu sudah seperti Rasulullah? Yang rela berjuang untuk dakwah ini dengan perjuangan yang luar biasa? Sontak si A kaget. Dan membuatnya berfikir kembali dengan kriteria yang telah ditentukannya untuk mencari pendamping hidup.

Kisah itu masih berlanjut dengan di sampai hikmah dari cerita itu. Dan aku juga mencoba mencerna kisah tersebut. Ketika menginginkan seorang pendamping hidup nantinya. Pasti, sejak kemarin sudah ada kriteria-kriteria yang sudah ada di pikiran ini. Harus seperti apakah ia nanti, punya apa, hafalannya sudah berapa juz? Sudah paham tentang Islam sejauh apa? Aplikasi tentang pemahamannya sudah benar apa belum? Cerdas tidak? Gigih tidak? Sungguh-sungguh tidak? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang lain yang menentukan kriteria pendamping hidup ku nanti. Tapi kisah tadi membuat ku berfikir lagi dengan kriteria-kriteria yang sudah aku tetapkan. Seperti yang aku ketahui selama ini. Pasangan kita adalah cerminan dari diri kita. Ketika aku mengajukan kriteria-kriteria yang bejibun banyaknya dan mendekati sempurnanya seorang manusia. Apakah aku sudah menjadi pribadi yang aku sebutkan pada kriteria yang aku ajukan? Atau masih jauh dari semua itu? Nah, jika masih jauh dari semua kriteria itu, apakah pantas kita meminta lebih sementara kita tidak berusaha untuk menjadi pribadi yang ada pada kriteria yang kita tetapkan. Ternyata masih sangat jauh. Masih jauh. Gumamku dalam hati. Jika ingin pendamping seperti Rasulullah, jadikan dulu dirimu seperti Khadijah atau Aisyah. Jika ingin pendamping seperti Ali bin Abi Thalib, jadikan dulu dirimu seorang seperti Fatimah Azzahra. Begitu juga yang lainnya.

Subhanallah. Sore itu cukup menjadi pelajaran bagiku. Cukup menjadi barometer untuk berpikir kembali. Teman….Ada banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah, nasihat atau apapun yang kita lihat dan yang kita dengar. Agar kita mampu menjadi pribadi-pribadi yang berpikir. Hanya saja apakah kita mau atau tidak mendengarkan dan mencerna nasihat itu agar menjadi suatu pembelajaran untuk diri kita. Wallahu’alam. Semoga bermanfaat.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/11/26/42746/jodohmu-adalah-cerminan-dirimu-benarkah/#ixzz2m5eNvpCz 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Read more »

Jumat, 25 Oktober 2013

Untuk Apa UpDate Status ???(Renungan Untuk Facebookers)

Bagi para pengguna Facebook, tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah "update status". Setiap hari, bahkan setiap jam selalu ada kalimat-kalimat baru untuk dikirimkan ke "beranda" teman-teman sesama Facebookers. Bahkan, jarang kita temukan adanya kalimat yang persis sama antara "status" seorang teman dengan teman yang lainnya. Sangat kreatif!

Lantas, mengapa kita jadi "kecanduan" untuk meng-update status? Salah satu alasannya yaitu sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat Al-Ma'arij ayat ke-20 yang terjemahannya:

"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir" (QS. Al-Ma'arij: 19).
Pada ayat selanjutnya, Allah menjelaskan: "Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat." (QS. A1-Ma'arij: 20-22).

Nah, apakah kita termasuk di dalamnya? Allahua'lam.

Saat kita sedang mendapatkan nikmat dari Allah SWT, ada dua reaksi yang biasanya muncul dari kita: Ada yang bersyukur dan ada yang kufur. Yang bersyukur, minimal mengucapkan hamdalah saat mendapatkannya, lalu sebagian ada yang langsung meng-update status dengan kalimat syukur tersebut sebagai luapan kegembiraan. Yang kufur, salah satunya dengan menyombongkannya di hadapan khalayak, naudzubillah.

Lain halnya jika kita mendapatkan cobaan dari Allah. Sebagian dari kita ada yang menyikapinya dengan senantiasa bersabar dan tawakkal, namun tidak sedikit pula yang bahkan sampai suuzdon kepada Allah, astaghfirullah.
Begitulah sekelumit fenomena disekitar kita. Dan fenomena tersebut kadang diungkapkan melalui status di Facebook, seperti status beberapa teman yang saya kutip berikut:
"*alhamdulillah sampai sumbar lagi.."
"innalillahi :'("
"haaah...kecewa lg :(
"enaknya ngapaeen eaaaa?...
"sepi gini....gak ada yg nemenin...hikzzz"
doesn't need to dream for it.hopefully this is the last time.. "
"Ku rasakan bahagia setelah lebaran..!"
Dan masih banyak lagi....status2 lainnya....

Di lain hal, manusia juga cenderung ingin diperhatikan. Saat kita update status, tentunya kita mengharapkan respon dari teman-teman berupa "jempol" sebagai tanda suka atau mengomentarinya jika diperlukan.
Namun demikian, hal yang sepatutnya kita renungkan adalah: Sejauh mana manfaat atau bahkan mudhorat yang bisa kita dapatkan dari "update status"? Mari kita evaluasi sejenak.

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam.." (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Dari hadits diatas, kita hanya mendapati dua pilihan: berkata yang baik atau diam, tidak ada pilihan ketiga.

Kembali ke "status".
Status juga bisa dimaknai sebagai "perpanjangan tangan" dari lidah kita. Saat kita tidak bisa berbicara dengan orang banyak yang berjauhan, kita gunakan media, diantaranya dengan menelepon, pesan singkat (SMS), termasuk dengan meng-update status di Facebook. Jadi, bisa kita simpulkan (sekali lagi) bahwa status di Facebook merupakan "perpanjangan tangan" dari lidah dan mulut kita.

Berkaitan dengan hadits diatas, juga dapat kita pahami bahwa untuk meng-update status, juga harus dengan (hanya) dua pilihan: status yang baik, atau tidak sama sekali.
Update-lah status dengan kebaikan! Itu kata kuncinya.

Bayangkan, akun kita yang memiliki teman ratusan bahkan ribuan akan membaca kebaikan setiap harinya. Misalnya, saat kita update dengan kalimat: "Teman-teman, sudah sholat Dzuhur?" atau, "Yuk Sobat, sebelum tidur tilawah dulu". Dari kalimat tersebut, kita tidak pernah mengetahui ada berapa banyak teman kita yang ternyata melaksanakan apa yang baru saja kita sampaikan. Kalaupun misalnya tidak ada yang tergugah dengan perkataan kita di status, toh insya Allah tetap akan ada pahala untuk kita, karena yang dinilai Allah adalah ikhtiar kita, sedangkan hasilnya adalah hak Allah.

Rasulullah SAW bersabda, "Setiap yang ma'ruf adalah sedekah, dan orang yang menunjukkan jalan kepada kebaikan (akan mendapatkan pahala) seperti pelakunya." (HR. Bukhari nomor 374 dan Muslim nomor 1005), subhanallah!

Oleh karena itu, mari kita menjadi orang yang beruntung, yaitu orang yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran (QS. Al-'Ashr). Mari kita update status dan kiriman-kiriman lainnya dengan kebaikan-kebaikan, seperti: nasehat-nasehat, motivasi Islami, ayat al-Quran atau hadits, informasi-informasi yang bermanfaat untuk ummat dan kebaikan lainnya, dan mari tinggalkan perkataan dan ketikan yang tidak berguna!
Semoga ikhtiar kita diridhoi-Nya.
Allahua'lam.

Oleh hamba yang miskin ilmu: Muhammad Hidayat.
Mentor (kakak asuh) Forum Silaturrahim Remaja Masjid Muthmainnah POLDA Riau (FSRMM).
sumber :
http://m.facebook.com/note.php?note_id=10150282936969786&_mn_=10&p=10
Read more »

Jumat, 04 Oktober 2013

Cuci SMS


Berbagi makna dalam rangkaian kata-kata...



Ajal Seseorg itu sperti yg tlh d'takdirkn Alloh...qt tak pernah tw kpn ia datang...ttpi pasti tiba...

Hidup adalah pembelajaran, kita pernah dilukai & pernah melukai...tp krn qt belajar ttg bagaimana cara menghargai, menerima, berkorban dan memperhatikan..

Jika kata adalah sepotong hati, maka ilmu adalah cindera jiwa. Apa kita tidak ingin belajar dari ayahanda Ibrahim dan bunda Hajar tentang taqwa, sabar dan ikhlas dalam perjuangan. Teguhlah disaat yang lain rapuh. Bersabarlah karena setiap luka akan bermakna. Dan bergeraklah karena Allah, Rasul dan orang mukmin
Malam selalu merindukan pejuang-pejuang khalwat yang meneteskan air mata karena raja’, khauf, dan mahabbah. Jika Dia tebarkan cintanNya untuk setiap doa kita. Maka tiada pilihan selain berharap dan menangis. 
Kemenangan itu adalah pilihan bukan keberuntungan/kebetulan semata. Kemenangan itu bukan (saja) hasil memuaskan tapi proses yang benar. Kemenangan adalah keniscayaan bagi kita
Rabb, alasan pergerakan kami adalah Engkau, alasan ukhuwah kami adalah ENgkau, alasan kami bersatu adalah Engkau.Maka peliharalah jama’ah ini dan keberkahan syura dengan kekuasaanMu
Kemenangan bukanlah banyaknya kursi yang diraih, bukan banayak suara yang diperoleh, tapi kemenangan sejati adalah kemenangan hati rakyat Indonesia(HNW)
Allah mensyukuri orang yang bersyukur pada-Nya dan orang yang beriman dalam hatinya, lalu Ia memberitahukan bahwa hamba itu akan mendapat pahala yang sangat banyak
Kunci kemualiaan adalah TAAT kepada Allah dan RasulNya. Kunci kemenangan dan keberuntungan adalah SABAR. Kunci keberhasilan adalah DO’A
Inti ilmu adalah kejelasannya dan buahnya keselamatan. Inti kebersihan diri adalah qana’ah dan buahnya adalah rasa lapang. Inti dari sabar adalah menahan diri dan buahnya adalah kemenangan. Inti amalan adalah kesesuaian dan buahnya adalah kesuksesan. Dan puncak kemuliaan segala sesuatu adalah kejujuran
Murid aristoteles; APa yang harus saya lakukan? saya tidak memiliki ketekunan untuk membaca. Dan tidak mempunyai kesabaran terhadap kelelahan dan kejenuhan belajar. Aristoteles; kalau demikian tidak ada jalan bagimu kelak, kecuali harus  sabar menghadapi kesengsaraan dan kebodohan
Apabila seorang hamba selalu menyegerakan hak Allah atasnya, maka bagaimanalah Allah akan menunda memenuhi hak hamba itu
Jika anda ingin membiasakan sesuatu dalam hidup anda, maka latihlah dengan memaksakan sesuatu itu dalam diri anda secara rutin selama 30 hari
Amanah ibarat musuh, jangan dicari.Tapi jika ketemu jangan lari. Amanah ibarat kiriman orang tua, datang sebelum kita kehabisan. Amanah ibarat maut, datangnya tidak pernah menunggu kesiapan kita. Pun amanah sekecil titik-titik itu akan berhimpun menjadi garis-garis sketsa lukisan kemenangan
Biarlah Allah saja yang menyemangati kita. Sehingga tanpa sadar setiap peristiwa menjadi teguran atas kemalasan kita. Cukuplah Allah saja yang memelihara ketekunan kita, karena perhatian manusia terkadang menghanyutkan keikhlasan. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang bermakna, pribadi yang saat berbaur. Ia mampu menyemangati yang lain dan saat sendiri ia mampu menguatkan dirinya sendiri
Kita tak sanggup selamanya terluka, tapi ingatlah setiap tetesan air mata itulah mahar kita menuju surga. Bia aditanya kenapa kesabaran itu pahit? Jawabannya karena surga itu manis.

Jika kita amencintai seseorang karena kebaikan dan prestasinya, itu bukan CINTA tapi KAGUM. Jika kita mencintai sesorang karena fisiknya, itu bukan CINTA tapi NAFSU,
Jika Kita mencintai seseorang karena dia pernah membantu kita, itu bukan CINTA tapi TERIMAKASIH
Jika kita mencintai sesorang karena Allah, itulah CINTA sesungguhnya

Senang dan sedih, berat atau ringan, indah atau buruk. Itu hanyalah sugesti relatif terhadap keluasan hati. Allah tidak akan memebani kita melebihi kemampuan kita, karena Ia lebih tahu dari diri kita
Kesuksesan adalah 90% kedisplinan, 10%bakat. Banyak beralasan adalah ciri kemalasan, banyak kata maaf adalah ciri kebodohan
Kebiasaan Rasulullah SAW ketika sedang jenuh dan lelah dalam berjuang adalah sholat 2 rakat(shalat sunah mutlak) atau tilawah
Selamatkanlah hatimu maka engkau akan menyelamatkan segalanya
Akar dari semua bentuk kesyirikan adalah cinta yang keliru. Sedangkan hakikat ibadah hamba kepada Allah tidak bisa diperoleh dalam kesyirikan cinta (Ibnu Qayyim)
Sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, mereka tidak akan mundur, dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungjawabannya (QS.33:15)
Kepuasan terletak dalam upaya bukan dalam pencapaian. Upaya penuh merupakan kemenangan penuh (Mahatma Gandhi)
Tidak ada hati yang menderita mengejar impian, karena setiap detik pengejaran adalah detik pertemuan dengan Tuhan dan keabadian (Paulo Coelho)
Jika anda ingin menjadi orang yang luar biasa, tidak akan bisa jika anda hidup seperti orang biasanya hidup. Terbaik dalam berusaha akan membuat anda menjadi yang terbaik. Berbedalah, maka kau akan dikenal
Para wali Allah jika menempuh perjalanan yang sulit mereka justru optimis. sedangkan jika mereka melewati perjalanan yang mudah mereka malah khawatir (Wahb bin munabbih)

Kemenangan adalah keberhasilan menghadapi tantangan. Tantangan adalah cara pandang kita terhadap sebuah peluang. Peluang adalah pemanfaatan kesempatan. Menyia-nyiakan kesempatan adalah menyia-nyiakan kemenangan
Dia mengetahui pandangan mata yang berkhianat dan apa yang disembunyikan oleh hati (QS.Al-Mu’min 19). Adalah fitrah memliki kecenderungan terhadap lawan jenis, tapi mengelolanya agar tidak menimbulkan fitnah dan pelanggaran adalah bukti cinta pada Allah. Sungguh berdusta orang yang mengaku cinta pad allah tapi tidak mmperhatikan larangannya. Mari tengok hati, apakah kita berdusta?

Kehidupan Rumah Tangga adalah kehidupan "kerja". Diwarnai beban-beban dan kewajiban-kewajiban. Landasan Rumah Tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan saling menolong, saling menyempurnakan, saling mengasihi, dan saling membesarkan hati untuk menanggung beban hidup. (Hasan Al-Banna)

*dari berbagai sender.. oleh-oleh ‘bebersih’ HP
Read more »

Selasa, 01 Oktober 2013

10 Kesalahan Orang Tua Dalam Mengasuh Anak



Sebagai orang tua, Anda tentu menginginkan yang terbaik untuk buah hati Anda. Anda akan melakukan segala cara agar mereka dapat menjadi anak yang baik dan berguna di masa depan. Terkadang sikap orang tua menjadi berlebihan, bukannya membuat anak menjadi nyaman tapi mereka bisa menganggap Anda sebagai musuh. Simak kesalahan orang tua dalam mengasuh anak dilansir magforwomen.


1. Memenuhi semua permintaan anak
Sebagai orang tua Anda tentu perlu menuruti permintaan anak. Tapi jika terlalu sering bahkan sampai pada hal-hal yang bisa mendorong anak untuk bersikap tidak baik itu adalah kesalahan. Anak bisa menjadi sangat manja dan tidak mandiri di kemudian hari.


2. Tidak menghabiskan waktu dengan anak

Yang dibutuhkan anak dari orang tua sejatinya adalah perhatian dan perlindungan. Jika Anda terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan atau urusan pribadi sampai mengabaikan anak, mereka akan merasa kesepian dan bisa salah pergaulan.


3. Kemarahan yang tidak tepat
Terkadang orang tua wajib memarahi anaknya yang berbuat salah. Tapi hal itu harus dilakukan dalam waktu da situasi yang tepat. Sering kali orang tua memarahi anaknya di depan umum atau di depan teman-temannya. Ini akan membuat anak Anda merasa malu dan rendah diri.


4. Memiliki harapan terlalu tinggi

Sebagai orang tua Anda boleh saja memiliki harapan positif pada anak. Tapi tak sedikit orang tua yang memiliki harapan terlalu tinggi sampai-sampai tidak rasional dan sulit diwujudkan oleh anak. Hal ini akan menjadi beban tersendiri pada anak.


5. Membandingkan mereka dengan anak-anak lain
Anak mana yang ingin dibandingkan dengan orang lain. Ingat, potensi tiap anak tentu berbeda. Jika ada anak teman Anda yang pandai menari, bukan berarti anak Anda juga jago menari. Bisa saja anak Anda memiliki bakat di bidang lain.


6. Tidak mendengarkan mereka

Ini yang juga sering dilakukan orang tua pada anaknya. Terkadang anak sering bercerita hal yang mungkin terdengar konyol dan tidak rasional. Namun bukan berarti Anda tidak mendengarkannya. Anda harus mendengarkan apa saja yang dibicarakan oleh anak. 


7. Tidak mempraktekkan apa yang Anda katakan
Terkadang banyak orang tua yang suka berkata seperti "Papa rajin bangun pagi" tapi nyatanya tidak demikian. Anda suka bangun di siang hari. Secara tidak langsung Anda sudah membohongi dan memberi contoh yang tidak baik pada anak.


8.Suka berjanji tapi tidak ditepati
Ini dia sikap yang sangat buruk dan dibenci oleh anak. orang tua sering menjanjikan suatu hal kemudian tidak menepatinya Hal tersebut akan membuat si anak kecewa dan tidak percaya lagi pada Anda.


9. Over protektif
Orang tua memang tahu apa yang dibutuhkan anak. Mereka sudah pernah menjadi anak-anak sehingga tahu mana yang terbaik dan yang tidak baik untuk anak. Sehingga mereka jadi over protektif. Sikap ini justru membuat si anak akan membangkang. Jadilah orang tua yang bijak.


10. Tidak menjadi teman mereka
Anda harus bersikap sebagai seorang teman dan membuat mereka merasa nyaman di hadapan Anda. Jangan sampai mereka lebih nyaman dengan teman-temannya dibanding dengan Anda.
Jadilah orang tua yang bijaksana agar anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik.


(merdeka/26/9/13)
Read more »

Jumat, 20 September 2013

Karena Cinta Pun Perlu Ilmu :)



Kita tak pernah tahu kapan cinta datang, atau sekedar hinggap sebentar. Ia terlalu tiba-tiba untuk kita rasakan. Bisa muncul pada saat yang terlalu sederhana sampai keadaan rumit sekalipun. 

Kata pujangga,.. cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. ihhiirr…gitu yaa @_@

Cinta begitu manis, semanis coklat saat kita memakannya. Namun, jika banyak porsi, yang manis-manis itu bisa menyakiti. Huft, !!!, kasihan si cinta,..yang begitu suci harus terkotori. Bagaimana ini??,.. :(

Ya,..mengolah  cinta memang sulit. Sesulit  matematika, fisika atau kimia, apalagi kalau sudah masuk soalnya . Tetapi, saat uraian ilmunya kita pelajari dengan ‘happy’, logaritma yang tak terungkap akan mudah teratasi, asal usul “E=mc2 jadi mudah dimengerti  dan perhitungan laju reaksi pun akan terbukti. Lho…apa hubungannya ??hehe… :D

Yang jelas segala sesuatu itu perlu ilmu dan untuk mendapatkannya kita harus banyak cari tahu. Ya iyalah…Yuk marii…. :p. 

Huft !, bosan rasanya jika jatuh cinta dikaitkan dengan merah jambu. Kasihan warna itu…mungkin sudah tidak trend lagi karena sekarang sudah makin banyak warnanya atau pun rasanya. (kok kayak permen?) 

*mulai serius nih!

Bismillah…

Akhwatfillah,
Sungguh…Tarbiyah ini mengajarkan Kita,..Kita – Aku dan dirimu – untuk semakin dewasa. Dewasa menjalani kehidupan ini yang makin banyak guncangan dan godaan. Aku mungkin tak pantas, tepatnya ‘’tak layak’’ untuk menulis tentang hal ini. Karena Aku pun sadar, diri ini masih dalam ‘perbaikan’ dan terus belajar mencintai dien yang makin hari semakin indah.
Tulisan ini ditujukan untuk mengingatkan dirimu dan terutama diri ini sendiri, sungguh ingin sekali berbagi ilmu yang masih sangat sedikit ini dalam kebaikan. Hmm, Jadi teringat ayat-Nya ;

“ Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali orang – orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat – menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menaati kesabaran (QS. Al-‘Ashr : 1-3).

Kebaikanlah yang ingin ku cari … :)
Saudaraku Muslimah yang InsyaAllah di Rahmati Allah,..
Cinta kepada lawan jenis adalah fitrah, ia adalah rasa ‘aneh’ yang Tuhan berikan kepada kita, manusia. Bahagia saat bisa sekedar melihatnya dari jauh, rindu saat tak terdengar kabarnya beberapa hari, resah saat dia dekat dengan yang lain dan selalu ingin tahu segala sesuatu yang up-date tentangnya..
kita pun perlu ilmu dalam cinta itu untuk ‘rem kendali’. Ada waktunya kita untuk merasakanya secara utuh dengan limpahan pahala yang Allah beri.

Dalam istilah gaul jaman sekarang, banyak yang menyebutkan bahwa perempuan selalu galau jika berhubungan dengan masalah ‘cinta’pada si ‘dia’. Hingga permasalahan tersebut begitu pelik bahkan sangat mengganggu kehidupan sehari-hari.  Adapun yang sampai rela mengorbankan harga diri demi ‘bukti’ cinta pada seseorang yang belum halal baginya. Naudzubillah….

Ingatlah selalu Firman-Nya yang tertulis jelas,
Bismillahhirrahmanirrahiim…

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (Qs. An-nur: 26)

Tidakkah kita berfikir bahwa jodoh adalah cerminan dari diri kita?, Tuhan telah berjanji bahwa perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik, begitu juga sebaliknya. Tentunya kita sebagai hamba-Nya harus terus berikhtiar, memperbaiki diri ini dari waktu ke- waktu, karena sungguh,..kebaikan sekecil apapun di mata Allah adalah mulia dan berpahala.  Kebaikan kecil yang diistoqomahkan adalah langkah awal untuk menapaki kebaikan - kebaikan kita selanjutnya. Jangan pernah putus asa…
Ingatlah buku Arif Nur Salim atau biasa dikenal Salim A. Fillah, NPSP (Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan), di cover bagian belakang buku itu tertulis :
“Alangkah seringnya, mentergesai kenikmatan tanpa ikatan, membuat detik-detik di depan terasa hambar. Belajar dari ahli puasa, ada dua kebahagiaan baginya. Saat berbuka, dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala. Inilah puasa panjang syahwatku. Kekuatan ada pada menahan. Dan rasa nikmat itu terasa, di waktu buka yang penuh kejutan. Coba saja, kalau Allah yang menghalalkan, setitis cicipan surga, kan menjadi shadaqah berpahala.”
Karena bagi lelaki shalih, ketika ia jatuh cinta pada wanita, pilihannya hanya 2: segera meminangnya atau mempersilakan lelaki shalih lain yang menjemputnya. Karena baginya, tidak pantas bermain dengan hawa nafsu dan janji yang tak pasti.
Teruslah belajar, memperbaiki diri kita, tak ada kesia-siaan menuju kebaikan,
Semoga kelak Allah mempertemukan kita dengan seseorang yang ‘layak’ di waktu yang tepat. InsyaAllah...Semua akan indah pada waktunya,..jika kita belum diijinkan Allah memilikinya di dunia dan lebih dulu menghadap-Nya, kelak Dia akan memberikanya di Akhirat..InsyaAllah...InsyaAllah...
Salam Manis dariku, semoga Allah selalu ada disetiap langkah kita,...








 
Read more »

Jumat, 13 September 2013

Inner Beauty Muslimah Sejati



Setiap muslimah senantiasa mendambakan kecantikan fisik. Tetapi ingat, kecantikan dari dalam (inner beauty) adalah hal yang lebih penting daripada kecantikan fisik belaka. Karena, apa gunanya seorang muslimah cantik fisik tetapi tidak memiliki akhlak terpuji. Atau apa gunanya cantik fisik tetapi dibenci orang-orang sekitar karena tindak-tanduknya yang tidak baik. Karena itu, kecantikan dari dalam memang lebih diutamakan untuk menjaga citra diri seorang muslimah.
 Menjaga kecantikan dari dalam berarti menjaga etika dan budi pekerti baik, serta menggunakan anggota tubuh untuk hal-hal yang baik berdasarkan sudut pandang syariat Islam. Sebagai contoh, bibir yang indah tak hanya indah menarik secara fisik, tapi juga meniscayakan penuturan kata-kata baik dan ucapan santun. Tutur kata santun dan ucapan yang baik memberi kesan mendalam bagi orang lain.
Allah pun dengan tegas menyatakan bahwa antara ciri hamba-Nya yang baik adalah mereka yang baik ucapannya. Mereka yang apabila dihina atau dicaci oleh orang yang jahil (tidak berilmu), mereka tidak membalasnya kecuali dengan kata-kata baik dan lemah lembut. Dia berfirman, “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang- orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (Al-Furqan: 63)
Tak hanya itu, seorang muslimah yang baik akan meninggalkan perkataan-perkataan tidak bermanfaat. Rasulullah bersabda, “Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.” Mengenai hadits ini, Imam Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan, “Kebanyakan pendapat yang ada tentang maksud meninggalkan apa-apa yang tidak penting adalah menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna.”
Dalam Ad-Daa` wa Ad-Dawaa`, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menerangkan lebih lanjut, “Menjaga lisan adalah agar jangan sampai seseorang mengucapkan kata-kata yang sia-sia. Apabila dia berkata hendaklah berkata yang diharapkan terdapat kebaikan padanya dan manfaat bagi agamanya. Apabila dia akan berbicara hendaklah dia pikirkan, apakah dalam ucapan yang akan dikeluarkan terdapat manfaat dan kebaikan atau tidak? Apabila tidak bermanfaat hendaklah dia diam, dan apabila bermanfaat hendaklah dia pikirkan lagi, adakah kata-kata lain yang lebih bermanfaat atau tidak? Supaya dia tidak menyia-nyiakan waktunya dengan yang pertama (tidak bermanfaat) itu.”
Termasuk dalam hal ini adalah menjauhi perbuatan ghibah yang berkaitan erat dengan lisan yang mudah bergerak dan berbicara. Maka hendaknya para muslimah memperhatikan apa-apa yang diucapkan. Jangan sampai terjatuh dalam perbuatan ghibah yang tercela. Bila setiap wanita muslim bisa menjaga lisan dari mengganggu atau menyakiti orang lain, insya Allah mereka akan menjadi seorang muslimah sejati. Rasulullah SAW bersabda, ”Seorang muslim sejati adalah bila kaum muslimin merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Muslim)
Pun demikian dengan anggota tubuh lainnya, seperti mata. Untuk menjadikan sepasang mata yang indah dan memesona, maka pandanglah kebaikan-kebaikan dari orang-orang, jangan mencari-cari keburukan mereka. Allah berfirman mengenai hal ini, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (Al-Hujurat: 12).
Rasulullah pun mewanti-wanti, “Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya yang belum sampai ke dalam hatinya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, janganlah kalian menjelek-jelekkannya, janganlah kalian mencari-cari aibnya. Barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim niscaya Allah akan mencari aibnya. Barang siapa yang Allah mencari aibnya niscaya Allah akan menyingkapnya walaupun di dalam rumahnya.” (HR. At Tirmidzi)
Dan terpenting lagi, mempergunakan mata untuk hal-hal yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. Hal ini berarti tidak menggunakan mata untuk bermaksiat. Pandangan mata adalah mata air kemuliaan, juga sekaligus duta nafsu syahwat.
Betapa banyak manusia mulia yang didera nestapa dan kehinaan, hanya karena mereka tidak dapat mengendalikan mata. Yaitu ketika matanya tidak dapat lagi menyebabkan seseorang menjadi bersyukur atas anugerah nikmat, karena dipergunakan secara zhalim. Seseorang muslimah yang menjaga pandangan berarti dia menjaga harga diri dan kemaluannya. Barangsiapa yang mengumbar pandangannya, maka akan terjerumus ke dalam kebinasaan. Inilah mengapa Rasul menegaskan, “Tundukkan pandangan kalian dan jagalah kemaluan kalian.”
Lalu peliharalah telinga dari mendengarkan bid’ah, gosip, kata-kata keji dan sesat, atau menyebutkan kesalahan-kesalahan orang. Telinga diciptakan untuk mendengarkan Kalam Allah dan instruksi-instruksi Rasulullah. Sepasang telinga yang indah dan baik adalah yang bisa mengambil manfaat ilmu-ilmu keislaman.
Lalu tangan yang baik adalah tangan yang diulurkan untuk membantu dan menolong sesama muslim, serta bersedekah dan berzakat. Kita diberi dua tangan; satu untuk membantu kita dan satu lagi untuk membantu orang lain. Lalu Islam juga  mengajarkan bahwa tangan ‘di atas’ lebih baik dari tangan ‘di bawah’. Tentang hal ini, suatu ketika, Rasul ditanya oleh para istrinya, “Siapakah di antara kami yang pertama kali akan menemui engkau kelak?” Dengan suara bergetar, Nabi menjawab, “Tangan siapa di antara kalian yang paling panjang, itulah yang lebih dahulu menemuiku.” “Tangan paling panjang” yang dimaksud Rasulullah adalah yang gemar memberi sedekah kepada fakir miskin.
Maka jaga baik-baik kedua tangan, jangan dipergunakan untuk memukul seorang muslim, dipakai untuk mengambil barang haram ataupun mencuri, jangan dipergunakan untuk menyakiti makhluk ciptaan Allah, atau dipergunakan untuk mengkhianati titipan atau amanah. Atau untuk menulis kata-kata yang tidak diperbolehkan.
Kemudian kedua kaki yang ‘indah’ adalah yang dipergunakan untuk mendatangkan keridhaan Allah. Jagalah kedua kaki untuk tidak berjalan menuju tempat-tempat yang diharamkan atau pergi ke pintu penguasa yang kafir. Karena hal itu adalah kemaksiatan yang besar dan sama saja dengan merendahkan diri kalian. Lalu jangan sekali-kali mempergunakan kaki untuk menyakiti saudara-saudari muslim, pergunakanlah untuk berbakti kepada Allah, misalnya dengan mendatangi masjid, tempat-tempat pengajian, berjalan untuk menuntut ilmu agama serta menyambung tali silaturahim, atau melangkahkannya untuk berjihad di jalan-Nya.
Rasul bersabda, “Barangsiapa yang kedua telapak kakinya berdebu di jalan Allah, maka haram atas keduanya tersentuh api neraka.” Beliau menerangkan lagi, “Allah akan menjamin orang yang keluar (berjuang) di jalan-Nya, seraya berfirman: “Sesungguhnya orang yang berangkat keluar untuk berjihad di jalanKu, karena keimanan kepada-Ku dan membenarkan (segala ajaran) para RasulKu, maka ketahuilah bahwa Akulah yang akan menjaminnya untuk masuk ke dalam surga.”
Demikian pula dengan segenap anggota tubuh lainnya. Semuanya akan nampak indah serta memesona apabila dipergunakan dalam rel ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kecantikan fisik seorang muslimah bahkan sangat dipengaruhi kecantikan batin. Untuk mendapatkan tubuh yang ramping, maka cobalah untuk berbagi makanan dengan orang-orang fakir-miskin.
Kecantikan sejati seorang muslimah tidak terletak pada keelokan dan keindahan fisik atau keglamoran pakaiannya. Kecantikannya sangat dipengaruhi perilaku dan ketaatannya kepada Allah dan Rasulullah. Kecantikan sebenarnya direfleksikan dalam jiwa.
Maka jadikan malu karena Allah sebagai perona pipinya. Penghias rambutnya adalah jilbab yang terulur sampai dadanya. Zikir yang senantiasa membasahi bibir adalah lipstiknya. Kacamatanya adalah penglihatan yang terhindar dari maksiat. Air wudhu adalah bedaknya untuk cahaya di akhirat. Kaki indahnya selalu menghadiri majelis ilmu. Tangannya selalu berbuat baik kepada sesama. Pendengaran yang ma’ruf adalah anting muslimah. Gelangnya adalah tawadhu. Kalungnya adalah kesucian.
Sumber :
Read more »