Minggu, 25 Januari 2015

Menjadi Guru Ahli Surga dengan Meneladani Sifat Rasul



Melihat contoh perilaku negatif yang dilakukan oleh guru, bisa ditarik satu kesimpulan, guru juga manusia.Tanpa disadari, guru masih dianggap sebagai ‘dewa’ oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Guru adalah makhluk tanpa cela yang seluruh perkataan dan perbuatannya adalah kebenaran.
Guru adalah orang yang tidak boleh dilawan atau disanggah perkataannya. Jika ada siswa yang meragukan atau menyanggah guru, maka siswa tersebut akan dicap sebagai pemberontak. Guru adalah satu-satunya profesi di Indonesia yang dipuja dalam beberapa lagu. Gurulah yang dianggap penghantar manusia menuju masa depan.
Namun guru tetaplah manusia.Ia bisa khilaf dan melakukan dosa. Lemahnya iman bisa menjadikan ia salah jalan. Kurangnya dia bersyukur membuat ia jadi takabur. Tak merasa diawasi menjadikan ia lupa diri. Terlalu cinta dunia membuatnya jadi jumawa.Karena guru tetaplah manusia.Cara pandang sekulerisme telah menjadikan guru sebagai sosok yang jauh dari nilai-nilai Islam. Benturan pemahaman yang ia alami di sekolah menjadikan ia rela menggadaikan keimanannya.
Lalu bagaimana menjadikan guru sebagai ahli surga? Tentu saja dengan meneladani Rasulullah saw. Bukankah Allah sudah menggambarkan dalam ayat-Nya bahwa Rasulullah saw adalah sebaik-baik suri tauladan? Allah SWT berfirman:
]لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا[
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (TQS al-Ahzab [33]: 21).
Rasulullah saw memiliki karakter mulia yang orang Barat pun sudah mengakuinya. Michael H. Hart dalam bukunya “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History” menempatkan Muhammad saw di posisi pertama sebagai orang yang paling memberikan pengaruh di dunia. Rasulullah saw adalah sosok Nabi yang mengangkat manusia ke peradaban yang cemerlang dari masa kegelapan.
Rasulullah saw adalah sebaik-baik guru yang patut ditiru. Rasulullah saw menganggap betapa penting arti pendidikan bagi perkembangan sebuah negara. Setelah perang Badar, Rasulullah saw memerintahkan 70 orang kafir Quraisy yang menjadi tawanan perang untuk mengajar kepada penduduk Madinah. Masing-masing dari mereka bertugas mengajarkan baca dan tulis ke sepuluh anak-anak dan orang dewasa.Hasilnya, 700 orang penduduk Madinah terbebas dari buta huruf. Kemudian 700 penduduk yang sudah bisa baca tulis diminta untuk mengajarkan kembali pada penduduk yang lain.
Sudah sepatutnya para guru mengaplikasikan sifat Rasulullah saw yang juga menjadi sifat wajib Rasul laindalam menjalankan profesinya:
1. Shiddiq
Shiddiq berarti benar.Tidak hanya benar dalam perkataan tetapi juga dalam perbuatan. Berbuat curang di waktu ujian nasional tentu bukanlah perbuatan yang sesuai dengan sifat yang Rasulullah saw miliki.
Seorang guru dituntut untuk mengajarkan kebenaran dan menjunjung tinggi kejujuran. Jika ada kecurangan yang ia ketahui, ia akan berada di garda terdepan untuk mengingatkan yang lain. Ia akan bekerja sepenuh hati tanpa takut dicaci-maki. Karena ia yakin, Allah senantiasa mengawasi.Mengajarkan ilmu yang ‘salah’ juga bukan cerminan dari sifat shiddiq. Ketika ada materi pelajaran yang tidak sesuai dengan pemahaman, ia akan memilih mengungkapkan kebenaran.
2. Amanah
Amanah artinya dapat dipercaya. Guru mempunyai akad ‘jual beli jasa’ dengan orangtua yang sudah menitipkan anak-anaknya pada mereka. Ketika dia tidak melaksanakan tugasnya dengan benar, maka ia bukanlah orang yang memegang amanah.
Mengurangi jam belajar atau hanya memberikan tugas lalu meninggalkan kelas tanpa alasan jelas bukanlah cerminan guru yang amanah.
Sekecil apapun gaji atau honor yang diterima oleh guru, bukanlah menjadi alasan dia untuk mengabaikan akad yang sudah ia ucapkan ketika memutuskan untuk mengajar. Guru yang amanah pun tidak menjadikan kekerasan sebagai jalan mendisiplinkan anak didiknya.Ia akan berlaku lemah lembut penuh kasih sayang. Motivasi akan senantiasa ia berikan manakala ada muridnya yang merasa gagal dalam pelajaran.
Rasulullah saw dijuluki sebagai al-Amin atau orang yang dapat dipercaya sejak beliau masih muda. Kafir Quraisy pun tidak meragukan sifat Rasulullah saw tersebut.
3. Fathanah
Guru yang memiliki sifat fathanah berarti ia cerdas dan bijak dalam melakukan perbuatan. Guru dituntut untuk senantiasa mengembangkan ilmu yang ia ajarkan pada murid-muridnya. Guru yang terus menerus menjunjung metode konvesional tanpa berinovasi tidaklah memiliki sifat fathanah.Guru yang kembali melanjutkan kuliah hanya untuk memperoleh gelar bukanlah guru yang fathanah.Guru yang rela membayar sejumlah uang untuk membeli ‘titel’ bukan guru yang fathanah.
Guru yang fathanah adalah guru yang bisa menjadikan murid-muridnya lulus 100% tanpa harus berbuat curang. Guru yang senantiasa terbuka dalam menerima kritik yang datang dari siswa atau dari guru yang lain. Guru yang senantiasa berkompetisi sehat dengan sesama guru yang lain dalam mendidik generasi muda sebagai tonggak penerus masa depan.
Jika Rasulullah saw tidak memiliki sifat fathanah, mustahil Islam bisa menyebar ke seluruh dunia. Dengan sifatnya yang fathanah, Rasulullah saw berhasil mengajak kafir Quraisy untuk masuk Islam. Strategi perang yang ia sarankan juga menghantarkan kemenangan kaum muslimin di perang badar.
4. Tabligh
Tabligh berarti menyampaikan. Guru memang tidak boleh pelit dalam memberikan ilmu. Ilmu yang bermanfaat akan menjadi pahala yang terus mengalir bagi guru. Rasulullah saw tidak mungkin menyembunyikan wahyu. Jika Allah SWT memberikan teguran padanya, beliau saw akan memberitahukan pula pada kaum muslimin. Tanpa ada rasa malu.Tidak ada yang ditutup-tutupi.
Jika melihat kemaksiatan, guru seharusnya menyampaikan kebenaran walau nyawa jadi taruhan.Ia juga tidak segan jika ancaman pencopotan jabatan senantiasa mengintai. Ia akan mengajak semua pihak termasuk murid-muridnya untuk senantiasa menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya di semua aspek kehidupan.
Jika akhirnya ia pun dikucilkan oleh yang lain, ia pun tak risau. Karena ia yakin Allah SWT akan selalu menemani. Kalaupun ia dipecat, ia yakin Allah SWT Maha Pemberi Rizki.
Menjadi guru adalah tugas mulia.Jika guru dipandang sebagai profesi yang bisa menghasilkan materi semata, tentu menjadi guru yang meneladani sifat Rasulullah saw sangatlah sulit untuk dilakukan. Guru dituntut untuk bisa menahan amarah, senantiasa ikhlas, berlaku lemah lembut sementara gaji yang mereka hasilkan tidak seberapa dibandingkan dengan beban tanggung jawab yang harus mereka emban khususnya bagi guru non-PNS.
Namun, menjadi seorang guru akan menjadikan seorang hamba Allah senantiasa bertambah pahalanya. Rasulullah saw bersabda:
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh,” (HR. Muslim).

Walaupun jasad sudah terbungkus kain kafan, amalan seorang guru akan tetap mengalir jika ilmu yang ia ajarkan senantiasa diamalkan dan diajarkan kembali oleh murid-muridnya. Dan kemuliaan itu akan ia dapatkan pula di surga jika ia senantiasa mengingat Allah setiap waktu dan menerapkan peraturan-Nya. Wallahu a’lam bishawab. 

Oleh: Maya Puspitasari, P.hD., Student School of Education, University of Glasgow, Scotland, UK
Di copy dari : islampos.com
Read more »

Jumat, 17 Oktober 2014

WAKTU - WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA


Allah memberikan masing-masing waktu dengan keutamaan dan kemuliaan yang berbeda-beda, diantaranya ada waktu-waktu tertentu yang sangat baik untuk berdoa, akan tetapi kebanyakan orang menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut. Mereka mengira bahwa seluruh waktu memiliki nilai yang sama dan tidak berbeda. Bagi setiap muslim seharusnya memanfaatkan waktu-waktu yang utama dan mulia untuk berdoa agar mendapatkan kesuksesan, keberuntungan, kemenangan dan keselamatan. Adapun waktu-waktu mustajabah tersebut antara lain:



Sepertiga Akhir Malam

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallambersabda yang artinya : “Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu berfirman ; barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan baran1gsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya”  (Shahih Al-Bukhari, kitab Da’awaat bab Doa Nisfullail 7/149-150).

Tatkala Berbuka Puasa Bagi Orang Yang Berpuasa

Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu bahwa dia mendengar RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pafa saat berbuka ada doa yang tidak ditolak”(Sunan Ibnu Majah, bab Fis Siyam La Turaddu Da’watuhu 1/321 No. 1775. Hakim dalam kitab Mustadrak 1/422. Dishahihkan sanadnya oleh Bushairi dalam Misbahuz Zujaj 2/17).

Setiap Selepas Shalat Fardhu

Dari Abu Umamah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentangdoa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau menjawab:
Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai [dubur shalat, yg benar mungking penghujung shalat, bukan selesai shalat. krn syaikhul islam menegaskan Nabi tdk pernah berdoa setelah shalat] shalat fardhu” (Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da’awaat 13/30. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/167-168 No. 2782).

Sesaat Pada Hari Jum’at

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Abul Qasim Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
Sesungguhnya pada hari Jum’at ada satu saat yang tidak bertepatan  seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan diberikan padanya, beliau berisyarat dengan tangannya akan sedikitnya waktu tersebut” (Shahih Al-Bukhari, kitab Da’awaat 7/166. Shahih Muslim, kitab Jumuh 3/5-6)
Waktu yang sesaat itu tidak bisa diketahui secara persis dan masing-masing riwayat menyebutkan waktu tersebut secara berbeda-beda, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/203.
Dan kemungkinan besar waktu tersebut berada pada saat imam atau khatib naik mimbar hingga selesai shalat Jum’at atau hingga selesai waktu shalat ashar bagi orang yang menunggu shalat maghrib.

Pada Waktu Bangun Tidur Pada Malam Hari Bagi Orang Yang Sebelum Tidur Dalam Keadaan Suci dan Berdzikir Kepada Allah

Dari ‘Amr bin ‘Anbasah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:
Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun pada malam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya” (Sunan Ibnu Majah, bab Doa 2/352 No. 3924. Dishahihkan oleh Al-Mundziri 1/371 No. 595)
Terbangun tanpa sengaja pada malam hari (An-Nihayah fi Gharibil Hadits 1/190) Yang dimaksud dengan “ta’ara minal lail” yaitu terbangun dari tidur pada malam hari.

Doa Diantara Adzan dan Iqamah

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda.
Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah” (Sunan Abu Daud, kitab Shalat 1/144 No. 521. Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da’waat 13/87. Sunan Al-Baihaqi, kitab Shalat 1/410. Dishahihkan oleh Al-Albani, kitab Tamamul Minnah hal. 139)

Doa Pada Waktu Sujud Dalam Shalat

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda.
Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab saat itu sangat tepat untuk dikabulkan”. (Shahih Muslim, kitab Shalat bab Nahi An Qiratul Qur’an fi Ruku’ wa Sujud 2/48)
Yang dimaksud adalah sangat tepat dan layak untuk dikabulkan.

Pada Saat Sedang Kehujanan

Dari Sahl bin a’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallambersabda.
Dua doa yang tidak pernah ditolak ; doa pada waktu adzan dan doa pada waktu kehujanan”. (Mustadrak Hakim dan dishahihkan oleh Adz-Dzahabi 2/113-114. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami‘ No. 3078).
Imam An-Nawawi berkata bahwa penyebab doa pada waktu kehujanan tidak ditolak atau jarang ditolak dikarenakan pada saat itu sedang turun rahmat khususnya curahan hujan pertama di awal musim. (Fathul Qadir 3/340).

Pada Saat Ajal Takziah

Dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah Abu Salamah (pada hari wafatnya), dan beliau mendapatkan kedua mata Abu Salamah terbuka lalu beliau memejamkannya kemudian bersabda:
Sesungguhnya tatkala ruh dicabut, maka pandangan mata akan mengikutinya’. Semua keluarga histeris. Beliau bersabda : ‘Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali kebaikan, sebab para malaikat mengamini apa yang kamu ucapkan” (Shahih Muslim, kitab Janaiz 3/38)

Pada Malam Lailatul Qadar

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar“. (Al-Qadr : 3-5)
Imam As-Syaukani berkata bahwa kemuliaan Lailatul Qadar mengharuskan doa setiap orang pasti dikabulkan. (Tuhfatud Dzakirin hal. 56)

Doa Pada Hari Arafah

Dari ‘Amr bin Syu’aib Radhiyallahu ‘anhu dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya NabiShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah” (Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da’waat 13/83. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Ta’liq alal Misykat 2/797 No. 2598).

Artikel Muslimah.Or.Id
Penulis: Siti Anisa, AR
Read more »

Rabu, 13 Agustus 2014

KARENA CINTA TAU KEMANA DIA HARUS PULANG

Aku ingin yakin, bahwa kemanapun cinta itu pergi, dia akan kembali lagi ke rumahnya walau dengan segala perubahan yang ada. Bahwa kemanapun cinta itu pergi, dia akan kembali kepada orang yang selama ini selalu ada dan selalu berusaha membuatnya nyaman, seperti rumahnya. Bahwa kemanapun cinta itu pergi, cepat atau lambat dia akan menghentikan pencarian dan berlabuh pada dermaga yang sebenarnya selalu menantikan kepulangannya, seperti rumahnya.
Sama halnya seperti yang selama ini orang-orang bilang mengenai jodoh. Jodoh memang bisa bertemu dimana saja, kapan saja dan sewaktu kita bersama siapa saja. Kalau memang sudah ditakdirkan untuk bertemu, dan menautkan hati, semua pasti akan terjadi, semua akan menjadi jodoh. Sama halnya seperti jodoh dengan orang yang sudah lama terpisah selama bertahun-tahun. Lalu dipertemukan lagi untuk menautkan hati, semua pasti akan terjadi, semua akan menjadi jodoh.


Satu hal yang harus dan perlu diperhatikan. Jodoh itu pilihan terbaik dari Tuhan yang Ia berikan di waktu yang tepat, di tempat yang tepat dan dalam keadaan yang tepat. Sebanyak apapun penyangkalan yang dilakukan untuk menolak pemberian Tuhan, maka sebanyak itu pulalah Tuhan akan membalikkan hati kita. Jangan tidak percaya! Tuhan itu Maha Pembolak-balik hati. Tuhan yang mempunyai Kuasa untuk apapun yang ada di dunia ini, sekecil apapun.
Ah, sudahlah. Aku hanya ingin percaya, bahwa Tuhan itu adil. Tuhan itu akan memberikan yang terbaik pada umat-Nya, terutama apabila umat-Nya hanya berpasrah kepada-Nya. Dan kita sebagai umat-Nya hanya perlu bersyukur dan ikhlas menerima apa yang telah Tuhan berikan. Karena terkadang, apa yang menurutmu itu tidak baik, justru memiliki kebaikan yang lebih banyak”.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (Al-Baqarah:216)

Ya, kurang lebih seperti itulah pemberitahuan Tuhan kepada kita dari salah satu ayat dalam Al-Qur’an.
Yang jelas, bila ia benar-benar jodohku, Tuhan akan mempertemukan kita. Di saat yang tepat, di tempat yang tepat, dan pada kondisi yang tepat. 

Dikatakan atau tidak dikatakan itu tetap cinta,
cinta tahu kemana dia harus pulang,
dan "tulang rusukku" tak akan pernah tertukar :)

Manusia hanya bisa berusaha serta berdo'a, segalanya Allah yang menentukan.
Bismillah, perbaiki diri kita,...in sha Allah, akan indah pada waktunya,..
Read more »

Selasa, 12 Agustus 2014

Untukmu "GAZA"


Bagaimana diri ini bisa lupa hari itu, ketika tangis canda dan tawa saling beriringan mendampingi. Panas terik mentari yang ikut semangat menyinari menjadi saksi. Ketika jalinan kasih membersamai langkah juang, ketika sapaan hangat saling menyejukan. Ketika tak kenal menjadi sayang,... :')


Mungkin waktu itu tak seberapa, namun arti dari sebuah kepedulian begitu luar biasa,..Hingga tak terasa lagi rasa gundah, tak ada rasa lelah. Tuhan yang mempertemukan diri ini dengan kalian, dan betapa hati ingin mengungkapkan, Aku mencintaimu karena Allah,.. :')

secarik puisi sederhana,...

Bukan sedikit atau banyaknya, 
tapi ridha dan ikhlasnya,
bukan besar atau kecilnya ,
tapi niat dan kemauannya, 
Biarlah 'setitik kita', 
menjadi 'cahaya' bagi mereka,
Biarlah 'seikat bahagia',
menjadi 'cinta' hingga ke syurga,

Terimakasih untuk hari ini,
terimakasih untuk waktu yang telah memberi arti,
terimakasih untuk detik
yang kian membekas dalam hati,
terimakasih untuk 'jiwa pemberi'
semoga Allah selalu mengasihi,..


Bismillah...
"Orang-orang yang berinfaq dalam keadaan lapang maupun sempit, yang menahan amarah, dan yang memaafkan sesama manusia, dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan"
(QS. Ali 'Imran :134)

Peduli Gaza,
Jum'at, 18 Juli 2014
Read more »

Jumat, 11 April 2014

SEINDAH MUTIARA :)

Sungguh di zaman ini, sulitnya mencari pria dengan iman sekuat Yusuf kala digoda wanita. Susahnya menemukan lelaki qonaah, di kala begitu banyak pria memilih seperti Qorun yang tergila -gila harta. Di saat banyak yang lebih suka menjadi seperti artis-artis yang bangga dengan kegagahan fisik. Pada saat banyak pria merasa hebat bisa mengoleksi jumlah wanita yang “jatuh hati” padanya. Di kala banyak pemuda yang lebih memilih kesenangan syahwat bahkan sekalipun menjadi gigolo. Di saat banyak pria lebih senang bisa menaklukkan para wanita untuk dipacari.
Namun pria shalih walau sedikit tapi ia ada. Memang tak sehebat Yusuf, tapi amat luar biasa kala memilih untuk taat pada Allah SWT. Ia menang kala berperang mengendalikan hawa nafsunya. Ia sama seperti Yusuf kala tak mau tergoda wanita. Selama tak ada uzur ia ada di masjid setiap datang waktu shalat. Terus menerus menuntut ilmu agama adalah aliran darahnya. Ia pria yang memiliki keberanian tiada tanding dalam beramar ma’ruf nahi munkar di manapun berada sekalipun nyawa taruhannya. Ia imam yang cerdas dan bijaksana kala mendidik anak istrinya. Segala sisi dalam dirinya, hati, pemikiran dan perilakunya selalu terikat dengan aturanNya. Cintanya yang utama adalah pada Allah, rosul, dan jihad fii sabilillah.
Setali tiga uang, teramat sulit juga mencari wanita shalihah. Tak perlu setegar dan selembut Khatijah. Tak apalah bila tak secerdas dan secantik Aisyah. Tidak mengapa juga bila tak setaat dan sehebat Fatimah. Hanya satu yang penting, lisan, hati, pemikiran dan perilakunya senantiasa terikat aturan Allah. Itu sudah amat cukup. Dan wanita seperti ini pun ternyata sulit dicari.
Wanita yang tak memperturutkan hawa nafsu memang sulit ditemukan. Wanita yang tak suka memperlihatkan lekuk tubuh memang jarang. Wanita yang tidak suka menggunjing memang langka. Wanita yang suka menyembunyikan aib orang lain memang teramat sedikit jumlahnya. Tapi ia ada. Ia nyata. Ia ada di tengah kerumunan orang. Pakaiannya sopan, tertutup, longgar, tak tampak auratnya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sementara mungkin di sebelahnya adalah wanita-wanita yang terlihat rambut, betis, paha, bahkan dada. Bisa jadi di sekelilingnya adalah wanita yang berpakaian tapi ketat sehingga terbentuk jelas keindahan tubuhnya. Sangat mungkin di sekitarnya adalah wanita berkerudung tipis hingga terlihat bayang rambutnya, atau wanita berkerudung tapi baju dan celananya tetap menonjolkan bentuk badan. Tapi ia tetap kokoh tak tergoda untuk mengikuti para wanita di kanan kirinya. Meski ia pun memiliki body dan kulit yang sama indah dengan mereka. Tapi ia tetap menjaganya karena Allah, hatinya tak rela menjadi “santapan mata” makhluk bernama pria.
Wanita shalihah ia ada di sepertiga malam terakhir. Kala banyak manusia lelap tertidur. Saat banyak wanita sepertinya dugem di diskotik atau menjajakan tubuhnya di hotel-hotel, tempat prostitusi atau dimanapun nafsu bisa tersalurkan. Di dini hari yang dingin ia menangis, mohon ampun atas segala dosanya. Berdoa, dan mengadu pada Sang Maha Bijaksana.
Wanita shalihah, ia berada dalam rumah, di saat banyak teman-teman atau tetangganya berkumpul ngobrol sia-sia bahkan bergosip dan membicarakan kejelekan orang lain. Dan ia semakin tenggelam di dalam rumah dengan segala aktifitas mendekatkan diri pada RobbNya kala lisannya beramar ma’ruf nahi munkar hanya dipandang sebelah mata.
Wanita shalihah, ia tak berhias selain untuk suaminya. Meski mungkin teman-temannya, tetangga-tetangganya, bahkan saudara-saudaranya selalu memoles wajahnya dengan bedak tebal, lipstik, perona pipi, bulu mata atau eye shadow agar tampak cantik. Ia tetap kuat tak tergoda, tetap polos wajahnya di kala banyak wanita memilih bermetamorfosis saat keluar rumah.
Wanita shalihah, ia lebih memilih berada di masjid dan majelis-majelis ilmu daripada jalan-jalan dan cuci mata di mall-mall. Ia lebih memilih menghafal Alquran daripada berinteraksi di dunia maya hanya untuk menunjukkan eksistensi diri. Toh, berinteraksi sesama perempuan bisa dilakukan via sms, email, menelpon atau bertatap muka langsung. Jauh lebih terjaga daripada fb dan sejenisnya, karena bisa jadi mengundang lawan jenis nimbrung tiba-tiba.
Wanita shalihah, ia sangat terjaga lisannya. Tak mungkin mencaci maki orang lain. Bukan levelnya untuk mengeluarkan kata-kata buruk apalagi membicarakan aib orang lain. Ia sangat menjaga agar orang lain aman dari ucapannya.
Wanita shalihah, ia juga amat menghormati ibunya. Tak setitikpun memiliki kata dan sikap yang bisa melukai wanita yang telah melahirkannya. Tak pernah sekalipun ia berani membuat wanita mulia itu meneteskan air mata kesedihan. Begitu teramat berharga seorang ibu baginya. Laksana kristal yang harus dijaga.
Wanita shalihah, pasti takut pada Allah. Ia sangat peduli dengan dosa-dosa yang dimiliki. Ia sangat care untuk tak pernah lagi melakukan tindakan-tindakan yang melanggar syara. Ia selalu menjadikan segala dosa dan kemaksiatan di masa lalu sebagai cermin agar tak pernah terulang lagi.
Wanita shalihah dan pria shalih memang langka. Ia laksana orang asing. Benar sekali sabda rosul, ” Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)
Wanita shalihah dan pria shalih, namun ia ada dan akan selalu ada. Karena ia sebuah pilihan. Menjadi shalih dan shalihah adalah pilihan. Tiap diri bisa untuk memilih, menjadi shalih shalihah atau pendosa. Semakin banyak yang memilih menjadi shalih shalihah, maka akan semakin banyak yang akan mampu menginspirasi dan mengangkat saudaranya yang belum terbuka pintu hatinya. Semakin banyak yang bisa menebar manfaat bagi saudaranya seiman.
Wanita shalihah dan pria shalih laksana mutiara. Tetap indah berkilau walau ada dalam kubangan lumpur. Hidupnya penuh dengan cintaNya. Semoga menjadi seperti mutiara akan menjadi pilihan banyak anak manusia. Rosulullah bersabda,”  Bila hamba-Ku dekati-Ku sejengkal, maka Aku akan dekati dia sehasta. Bila dia dekati-Ku sehasta, maka Aku akan dekati dia sedepa. Dan apabila dia datang mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan dekati dia dengan berlari” (HR Bukhari)
Mengubah diri menjadi seperti mutiara memang tak mudah. Ada setan yang selalu mengintai. Tapi ingatlah bahwa kematian pun selalu mengiringi setiap langkah manusia, dimanapun berada. Dan cukuplah janji Allah menjadi sumber kekuatan. Sebuah hadits qudsy riwayat Tirmidzi dari Anas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “bahwa Allah telah berfirman, “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi (dosamu). Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula” (HR Tirmidzi).

Sungguh, kita indah bila menjadi seperti mutiara. Wallahu’alam.
Sumber : Eramuslim.com
Read more »

Sabtu, 30 November 2013

JODOHMU ADALAH CERMINAN DIRIMU, BENARKAH???

dakwatuna.com - Waktu menunjukkan pukul 23.50. Mata ini masih enggan terpejam, walaupun sudah segala cara kucoba. Mulai dari memaksakan mata untuk terpejam, baca buku (he, katanya baca buku bisa menjadi obat mujarab untuk bisa memejamkan mata buat sebagian orang) dan terakhir mematikan lampu. Akhirnya kucoba untuk memanfaatkan dini hari ini, untuk merefleksi. Memuhasabah kembali, mereview kejadian-kejadian yang telah aku lewati.

Teringat beberapa pekan lalu. Ketika pertemuan rutin kami di salah satu rumah. Awalnya pembahasan hari itu mengenai pengalaman rekan-rekan yang sudah menikah. Bagaimana proses sebuah pernikahan itu agar tetap sesuai dengan syariat yang telah ditentukan. Bagaimana sehingga akhirnya kita bisa menentukan dan memantapkan hati agar menerima seseorang untuk menjalankan visi hidup secara bersama. Yakni bukan hanya sekadar menjalin kasih sayang antar dua makhluk. Bukan hanya menikahkan dua orang anak manusia. Tetapi juga menikah dua keluarga yang pasti memiliki perbedaan yang signifikan. Selain itu menikah juga membangun keluarga yang sakinah, mawaddah dan di bawah rahmat Allah serta menjadikan regenerasi yang mampu melanjutkan perjuangan dijalan dakwah ini. Ada banyak hal yang bisa dijadikan masukan dan nasihat bagi kami yang nota bane belum berumah tangga. Sehingga sesekali ada gurauan yang ku lontarkan kepada kakak-kakak agar menyegerakan dan menyempurnakan separuh din nya.

Ada satu kisah menarik yang diceritakan. Yaitu tentang seorang laki–laki yang sudah hampir lanjut usia. Umurnya sudah hampir kepala 4. Anggap lah si A. Tetapi ia masih belum menemukan jodoh. Padahal dari sisi lain dia adalah seorang yang mengerti agama, pintar, dan mampu dari segi materil. Hanya saja ketika ada yang bertanya criteria seperti apa yang ia inginkan. Sampai-sampai dari sebanyak-banyaknya wanita yang ia temui. Belum ada yang membuatnya tertarik untuk dijadikan pendamping. Mungkin inilah sumber masalah yang membuat ia belum menikah. Ketika ditanya sahabatnya (si B) calon seperti apa yang ia inginkan. Dan A menjawab, “dia harus seperti Siti Khadijah. Minimal mendekati. Harus cerdas, kaya jika perlu putih, pintar ini, pintar itu dll”. Si B kaget, tapi mencoba menenangkan diri. Sambil bertanya lagi kepada si A. “Jika kamu menginginkan kriteria pendamping yang kamu sebutkan tadi. Dan hampir mendekati seperti ibunda Khadijah RA. Apakah kamu sudah seperti Rasulullah? Yang rela berjuang untuk dakwah ini dengan perjuangan yang luar biasa? Sontak si A kaget. Dan membuatnya berfikir kembali dengan kriteria yang telah ditentukannya untuk mencari pendamping hidup.

Kisah itu masih berlanjut dengan di sampai hikmah dari cerita itu. Dan aku juga mencoba mencerna kisah tersebut. Ketika menginginkan seorang pendamping hidup nantinya. Pasti, sejak kemarin sudah ada kriteria-kriteria yang sudah ada di pikiran ini. Harus seperti apakah ia nanti, punya apa, hafalannya sudah berapa juz? Sudah paham tentang Islam sejauh apa? Aplikasi tentang pemahamannya sudah benar apa belum? Cerdas tidak? Gigih tidak? Sungguh-sungguh tidak? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang lain yang menentukan kriteria pendamping hidup ku nanti. Tapi kisah tadi membuat ku berfikir lagi dengan kriteria-kriteria yang sudah aku tetapkan. Seperti yang aku ketahui selama ini. Pasangan kita adalah cerminan dari diri kita. Ketika aku mengajukan kriteria-kriteria yang bejibun banyaknya dan mendekati sempurnanya seorang manusia. Apakah aku sudah menjadi pribadi yang aku sebutkan pada kriteria yang aku ajukan? Atau masih jauh dari semua itu? Nah, jika masih jauh dari semua kriteria itu, apakah pantas kita meminta lebih sementara kita tidak berusaha untuk menjadi pribadi yang ada pada kriteria yang kita tetapkan. Ternyata masih sangat jauh. Masih jauh. Gumamku dalam hati. Jika ingin pendamping seperti Rasulullah, jadikan dulu dirimu seperti Khadijah atau Aisyah. Jika ingin pendamping seperti Ali bin Abi Thalib, jadikan dulu dirimu seorang seperti Fatimah Azzahra. Begitu juga yang lainnya.

Subhanallah. Sore itu cukup menjadi pelajaran bagiku. Cukup menjadi barometer untuk berpikir kembali. Teman….Ada banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah, nasihat atau apapun yang kita lihat dan yang kita dengar. Agar kita mampu menjadi pribadi-pribadi yang berpikir. Hanya saja apakah kita mau atau tidak mendengarkan dan mencerna nasihat itu agar menjadi suatu pembelajaran untuk diri kita. Wallahu’alam. Semoga bermanfaat.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/11/26/42746/jodohmu-adalah-cerminan-dirimu-benarkah/#ixzz2m5eNvpCz 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Read more »

Jumat, 25 Oktober 2013

Untuk Apa UpDate Status ???(Renungan Untuk Facebookers)

Bagi para pengguna Facebook, tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah "update status". Setiap hari, bahkan setiap jam selalu ada kalimat-kalimat baru untuk dikirimkan ke "beranda" teman-teman sesama Facebookers. Bahkan, jarang kita temukan adanya kalimat yang persis sama antara "status" seorang teman dengan teman yang lainnya. Sangat kreatif!

Lantas, mengapa kita jadi "kecanduan" untuk meng-update status? Salah satu alasannya yaitu sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat Al-Ma'arij ayat ke-20 yang terjemahannya:

"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir" (QS. Al-Ma'arij: 19).
Pada ayat selanjutnya, Allah menjelaskan: "Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat." (QS. A1-Ma'arij: 20-22).

Nah, apakah kita termasuk di dalamnya? Allahua'lam.

Saat kita sedang mendapatkan nikmat dari Allah SWT, ada dua reaksi yang biasanya muncul dari kita: Ada yang bersyukur dan ada yang kufur. Yang bersyukur, minimal mengucapkan hamdalah saat mendapatkannya, lalu sebagian ada yang langsung meng-update status dengan kalimat syukur tersebut sebagai luapan kegembiraan. Yang kufur, salah satunya dengan menyombongkannya di hadapan khalayak, naudzubillah.

Lain halnya jika kita mendapatkan cobaan dari Allah. Sebagian dari kita ada yang menyikapinya dengan senantiasa bersabar dan tawakkal, namun tidak sedikit pula yang bahkan sampai suuzdon kepada Allah, astaghfirullah.
Begitulah sekelumit fenomena disekitar kita. Dan fenomena tersebut kadang diungkapkan melalui status di Facebook, seperti status beberapa teman yang saya kutip berikut:
"*alhamdulillah sampai sumbar lagi.."
"innalillahi :'("
"haaah...kecewa lg :(
"enaknya ngapaeen eaaaa?...
"sepi gini....gak ada yg nemenin...hikzzz"
doesn't need to dream for it.hopefully this is the last time.. "
"Ku rasakan bahagia setelah lebaran..!"
Dan masih banyak lagi....status2 lainnya....

Di lain hal, manusia juga cenderung ingin diperhatikan. Saat kita update status, tentunya kita mengharapkan respon dari teman-teman berupa "jempol" sebagai tanda suka atau mengomentarinya jika diperlukan.
Namun demikian, hal yang sepatutnya kita renungkan adalah: Sejauh mana manfaat atau bahkan mudhorat yang bisa kita dapatkan dari "update status"? Mari kita evaluasi sejenak.

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam.." (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Dari hadits diatas, kita hanya mendapati dua pilihan: berkata yang baik atau diam, tidak ada pilihan ketiga.

Kembali ke "status".
Status juga bisa dimaknai sebagai "perpanjangan tangan" dari lidah kita. Saat kita tidak bisa berbicara dengan orang banyak yang berjauhan, kita gunakan media, diantaranya dengan menelepon, pesan singkat (SMS), termasuk dengan meng-update status di Facebook. Jadi, bisa kita simpulkan (sekali lagi) bahwa status di Facebook merupakan "perpanjangan tangan" dari lidah dan mulut kita.

Berkaitan dengan hadits diatas, juga dapat kita pahami bahwa untuk meng-update status, juga harus dengan (hanya) dua pilihan: status yang baik, atau tidak sama sekali.
Update-lah status dengan kebaikan! Itu kata kuncinya.

Bayangkan, akun kita yang memiliki teman ratusan bahkan ribuan akan membaca kebaikan setiap harinya. Misalnya, saat kita update dengan kalimat: "Teman-teman, sudah sholat Dzuhur?" atau, "Yuk Sobat, sebelum tidur tilawah dulu". Dari kalimat tersebut, kita tidak pernah mengetahui ada berapa banyak teman kita yang ternyata melaksanakan apa yang baru saja kita sampaikan. Kalaupun misalnya tidak ada yang tergugah dengan perkataan kita di status, toh insya Allah tetap akan ada pahala untuk kita, karena yang dinilai Allah adalah ikhtiar kita, sedangkan hasilnya adalah hak Allah.

Rasulullah SAW bersabda, "Setiap yang ma'ruf adalah sedekah, dan orang yang menunjukkan jalan kepada kebaikan (akan mendapatkan pahala) seperti pelakunya." (HR. Bukhari nomor 374 dan Muslim nomor 1005), subhanallah!

Oleh karena itu, mari kita menjadi orang yang beruntung, yaitu orang yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran (QS. Al-'Ashr). Mari kita update status dan kiriman-kiriman lainnya dengan kebaikan-kebaikan, seperti: nasehat-nasehat, motivasi Islami, ayat al-Quran atau hadits, informasi-informasi yang bermanfaat untuk ummat dan kebaikan lainnya, dan mari tinggalkan perkataan dan ketikan yang tidak berguna!
Semoga ikhtiar kita diridhoi-Nya.
Allahua'lam.

Oleh hamba yang miskin ilmu: Muhammad Hidayat.
Mentor (kakak asuh) Forum Silaturrahim Remaja Masjid Muthmainnah POLDA Riau (FSRMM).
sumber :
http://m.facebook.com/note.php?note_id=10150282936969786&_mn_=10&p=10
Read more »